Contents
- 1 Mengapa Banyak Anak Tumbuh Pintar tapi Rapuh Akhlaknya?
- 2 1. Menanamkan Kasih Sayang Sebagai Fondasi Pengasuhan
- 3 2. Memberi Teladan, Bukan Sekadar Perintah
- 4 3. Menghargai Anak sebagai Individu yang Bermartabat
- 5 4. Mendidik Bertahap Sesuai Usia dan Kesiapan Anak
- 6 5. Mendoakan Anak sebagai Bagian dari Ikhtiar
- 7 Parenting Islami Adalah Jalan Panjang Penuh Kesadaran
- 8 Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua yang Dicontoh Anak?
Mengapa Banyak Anak Tumbuh Pintar tapi Rapuh Akhlaknya?
Tidak sedikit orang tua hari ini merasa sudah “maksimal” dalam mendidik anak: sekolah bagus, les lengkap, fasilitas terpenuhi. Namun di sisi lain, muncul kegelisahan baru anak mudah marah, kurang empati, sulit menghormati orang tua, bahkan jauh dari nilai Islam.
Pertanyaannya, di mana yang kurang?
Islam sejak awal telah memberikan teladan pengasuhan terbaik melalui sosok Rasulullah SAW. Parenting Islami bukan sekadar soal aturan, tetapi tentang membentuk hati, akhlak, dan keimanan anak secara seimbang.
Berikut ini 5 prinsip parenting Islami yang dicontohkan Rasulullah SAW, relevan untuk orang tua, guru, dan lembaga pendidikan hingga hari ini.
1. Menanamkan Kasih Sayang Sebagai Fondasi Pengasuhan
Rasulullah SAW Mengasuh dengan Cinta, Bukan Ketakutan
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih, termasuk kepada anak-anak. Beliau mencium cucunya, Hasan dan Husain, bahkan di hadapan para sahabat. Ketika ada yang heran, Rasulullah bersabda bahwa orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.
Implementasi Parenting Modern
-
Bangun kedekatan sebelum memberi arahan
-
Dengarkan perasaan anak, bukan hanya perilakunya
-
Hindari mendidik dengan ancaman dan label negatif
Kasih sayang bukan memanjakan, tetapi membuka pintu hati anak untuk menerima nilai Islam.
2. Memberi Teladan, Bukan Sekadar Perintah
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Rasulullah SAW bagaikan al quran yang hidup. Akhlaknya menjadi contoh bagi umat, termasuk anak-anak. Beliau tidak hanya memerintahkan kejujuran, tetapi hidup dengan kejujuran.
Tips Praktis untuk Orang Tua & Guru
-
Tunjukkan adab berbicara yang baik di rumah
-
Perlihatkan cara mengelola emosi saat marah
-
Jadikan ibadah sebagai kebiasaan, bukan paksaan
Anak akan meniru sikap, bukan sekadar menghafal aturan.
3. Menghargai Anak sebagai Individu yang Bermartabat
Rasulullah SAW Tidak Meremehkan Anak
Rasulullah SAW sering menyapa anak-anak, mendengarkan mereka, bahkan memangku cucunya saat shalat. Ini menunjukkan bahwa anak dipandang sebagai manusia utuh, bukan “orang dewasa mini”.
Relevansi dengan Psikologi Anak
-
Anak yang dihargai tumbuh percaya diri
-
Anak yang didengarkan lebih mudah diarahkan
-
Harga diri yang sehat mencegah perilaku agresif
Islam mengajarkan adab mendidik tanpa merendahkan.
4. Mendidik Bertahap Sesuai Usia dan Kesiapan Anak
Islam Mengajarkan Proses, Bukan Instan
Rasulullah SAW mendidik umat termasuk anak-anak secara bertahap. Bahkan perintah shalat kepada anak dianjurkan mulai usia tujuh tahun, bukan sejak balita.
Contoh Aplikasi
-
Usia dini: fokus pada cinta, kebiasaan baik, dan adab
-
Usia sekolah: penguatan tanggung jawab dan disiplin
-
Usia remaja: dialog, kepercayaan, dan pendampingan
Parenting Islami tidak memaksa hasil cepat, tetapi membangun pondasi kuat.
5. Mendoakan Anak sebagai Bagian dari Ikhtiar
Doa Adalah Senjata Orang Tua
Rasulullah SAW sering mendoakan kebaikan bagi anak-anak. Dalam Islam, doa adalah inti dari pengasuhan.
Praktik Sederhana yang Konsisten
-
Doakan anak setelah shalat
-
Libatkan anak dalam doa bersama
-
Ucapkan doa kebaikan, bukan keluhan
Doa membentuk ikatan spiritual antara orang tua, anak, dan Allah SWT.
Parenting Islami Adalah Jalan Panjang Penuh Kesadaran
Parenting Islami yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan metode instan. Ia adalah perjalanan mendidik dengan cinta, keteladanan, penuh kesabaran, dan doa.
Ketika pengasuhan berlandaskan iman dan akhlak, insyaAllah anak tumbuh bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab.
Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua yang Dicontoh Anak?
Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi pribadi saleh dan bermanfaat. Pertanyaannya, nilai apa yang paling sering anak lihat dari kita setiap hari?
Mari jadikan Rasulullah SAW sebagai rujukan utama dalam pengasuhan. Semoga setiap usaha kecil dalam mendidik anak bernilai ibadah dan berbuah kebaikan hingga generasi mendatang.
