Artikel

Ayah Bunda, Inilah Perkembangan Sosial-Emosional Pada Anak Usia Dini

Bagikan Ke :

Yayasan Al Ummah – Sebagai orang tua, memahami perkembangan sosial-emosional anak merupakan hal yang sangat penting dalam membimbing mereka menuju masa dewasa yang sehat dan bahagia. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi beberapa aspek penting dari perkembangan sosial-emosional pada anak dan peran Ayah dan Bunda dalam mendukungnya.

Seiring bertambahnya usia Si Buah Hati, selain pertumbuhan fisik, keterampilan sosial dan emosional Si Buah Hati turut berkembang. Untuk bekal informasi Ayah Bunda, simak perkembangan sosial emosional anak usia dini lewat artikel berikut ini.

Pentingnya Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini

Untuk Ayah Bunda ketahui, perkembangan sosial dan emosional adalah tahap perkembangan ketika Si Buah Hati mulai memahami siapa dirinya, apa yang dirasakannya, dan harapannya saat berinteraksi dengan orang lain.

Perkembangan ini mencakup dua konsep penting, yakni perkembangan diri atau temperamen dan hubungan dengan orang lain atau keterikatan.

Perkembangan diri ini menggambarkan gaya atau kepribadian dan cara pandang anak ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya tingkat aktivitas, tingkat perhatian, intensitas emosi, keteraturan, ambang sensorik, cenderung terbuka atau tertutup, kemampuan beradaptasi, ketekunan, dan kualitas suasana hati. Selain aspek perkembangan diri, tahap perkembangan ini juga dilihat dari sisi keterikatan dengan orang lain.

Dari beberapa hal di atas, karakteristik perkembangan sosial emosional anak usia dini ada Si Buah Hati yang tergolong mudah atau fleksibel, aktif dan penuh semangat, atau cenderung berhati-hati.

Nah, perkembangan sosial emosional anak usia dini ini penting agar Si Buah Hati ke depan mampu:

  • Mengalami, mengelola, dan mengekspresikan emosi

  • Memiliki rasa percaya diri dan empati

  • Membentuk dan mempertahankan hubungan yang positif dengan orang lain

  • Mengembangkan hubungan sampai persahabatan bermakna dan langgeng

  • Menjelajahi dan aktif terlibat dengan lingkungan sekitar sehingga anak punya nilai bagi orang sekitar

Perlu Ayah Bunda pertimbangkan juga, kegagalan Si Buah Hati mengikuti perkembangan sosial dan emosional bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental dan emosional ke depan. Gangguan kesehatan mental dan emosional pada anak usia dini bisa terlihat dari keterlambatan perkembangan secara keseluruhan, susah berhenti menangis, masalah tidur, perilaku agresif, impulsif, atau takut pada banyak hal.

Hal ini apabila tidak segera ditangani bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan mental di kemudian hari, seperti penarikan diri, susah tidur, gangguan makan, depresi, kecemasan, atau reaksi stres traumatis.

Tahap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini

Contoh perkembangan sosial emosional anak usia dini ini meliputi pengalaman, ekspresi dan pengelolaan emosi, serta kemampuan untuk membangun relasi atau hubungan yang baik dengan orang lain.

Secara ringkas, berikut tahap perkembangan sosial anak usia dini yang perlu Ayah Bunda cermati:

1. Usia 1 tahun

  • Mulai punya kegemaran atau favorit, bisa orang atau mainan.

  • Dapat meniru suara atau gerak-gerik tertentu untuk menarik perhatian.

  • Senang bermain cilukba atau permainan yang melibatkan interaksi dengan orang lain.

  • Tidak sungkan mencoba mainan dengan orang dewasa di dekatnya.

  • Mulai bisa menunjukkan perasaan, misalkan marah, takut, malu, atau sayang dengan orang lain.

2. Usia 2 tahun

  • Dapat atau menunjukkan minat bermain sebentar dengan anak lain.

  • Semakin mahir meniru orang lain, terutama orang dewasa atau anak yang lebih besar di sekitarnya.

  • Semakin ingin menunjukkan kemandiriannya, misalkan ingin makan sendiri.

  • Mulai bisa mengeyel atau membangkang, karena mempunyai pendapat berbeda.

  • Mulai bisa bermain dengan anak lain, seperti kejar-kejaran.

3. Usia 3 tahun

  • Menunjukkan kepedulian dan kasih sayang dengan orang lain tanpa disuruh.

  • Meniru orang dewasa dan teman sekitarnya, misalkan ketika anak lain lari jadi ikut lari-larian.

  • Mulai bisa menikmati rutinitas dan terkadang jengkel kalau rutinitasnya terganggu.

  • Dapat mengenakan atau membuka pakaian sendiri.

  • Sudah bisa bilang ingin buang air ke toilet, terutama di siang hari.

4. Usia 4 tahun

  • Bisa bermain secara berkelompok dengan anak lain.

  • Semakin terampil konsep negosiasi, dan bisa memahami konflik butuh solusi.

  • Lebih suka bermain dengan anak lain ketimbang mainan sendiri.

  • Lebih kreatif ketika bermain khayalan atau yang butuh imajinasi.

  • Mulai bisa mengekspresikan apa yang disukai dan tidak disukai.

5. Usia 5 tahun

  • Ada minat menyenang-nyenangkan teman.

  • Sudah paham aturan dan bisa menurutinya.

  • Suka menyanyi, menari, atau mainan pura-pura.

  • Dapat membedakan antara realitas dan khayalan.

  • Terampil mengekspresikan apa yang disukai dan tidak disukai

  • Lebih menurut, kooperatif, dan mandiri.

Untuk mencapai tonggak di atas, anak usia dini butuh bantuan orang terdekat dan lingkungan sekitarnya, terutama orang tua.

Peran Orangtua dan Lingkungan dalam Mendukung Perkembangan Sosial Emosional

Orangtua dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional anak usia dini.

Pengalaman yang konsisten dengan anggota keluarga, pengasuh, guru, atau orang dewasa lain membantu anak belajar berhubungan dan mengeksplorasi emosi dalam interaksi sehari-hari.

Berikut beberapa peran nyata orangtua dan lingkungan dalam mendukung salah satu aspek perkembangan penting anak ini:

  • Tunjukkan kasih sayang sekaligus asuh anak dengan cara mendekap, menghibur, bicara, bermain, atau bernyanyi bersama.

  • Bantu anak merasakan serunya memberi dan menerima saat berhubungan dengan orang lain, misalkan dengan main cilukba, tepuk tangan bersama, mengajarkan salam, serta melambaikan tangan saat berpisah.

  • Berikan kesempatan anak untuk mempraktikkan keterampilan baru, tapi upayakan responsif memberikan bantuan langsung saat anak butuh.

  • Ajarkan keterampilan sosial dan emosional, seperti bergantian, kerja sama, mendengarkan, sampai menyelesaikan konflik.

  • Ayah atau pengasuh dapat membantu membangun kedekatan emosional sejak dini dengan cara segera merespons saat anak menangis dan memberikan apa yang dibutuhkan, sehingga anak segera tenang.

  • Perkenalkan berbagai pengalaman baru, seperti warna, bunyi, tekstur, bentuk, rasa, atau tempat yang baru dengan bahasa yang mudah dipahami anak.

  • Latih kemandirian anak sesuai tahap tumbuh kembangnya, seperti belajar makan sendiri, pakai pakaian sendiri, sampai bisa ke toilet

  • Ajarkan anak untuk menunjuk benda yang diinginkannya, sehingga Si Buah Hati dapat menyatakan kehendak tanpa banyak menangis.

Untuk dukung perkembangan sosial emosional anak , Ayah Bunda bisa menjadikan referensi yang ada pada langkah-angkah di atas. Selain itu juga, Ayah Bunda bisa memberikan pendampingan melalui pendidikan yang tepat yang memberikan layanan pendampingan perkembangan sosial-emosional pada Anak. Ingin tau informasinya bisa KLIK DISINI.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *