Teras Hikmah Episode 3
Teras Hikmah Episode 3

Legacy Itu Tak Harus Besar, Tapi Harus Ada

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 3

Siang itu menjelang Dzuhur, ruang guru ikhwan terasa agak lengang. Rangkaian kegiatan Idul Adha telah selesai, Beberapa guru duduk di depan meja masing-masing yang saling berhadapan, sebuah formasi khas agar mudah berdiskusi sambil tetap bisa memantau aktivitas siswa di luar. Di pojok ruangan ada satu set sofa sederhana, biasa dipakai untuk menerima tamu atau sekadar melepas lelah saat menunggu jam pelajaran berikutnya bagi para ustadz. Di sampingnya berdiri dispenser dua keran, air panas dan dingin, yang selalu ramai tiap jam istirahat. Kali ini, di atas meja tengah, sudah tersedia ketela goreng yang baru ditiriskan dari dapur

 

Pak Wawan, guru senior yang tinggal menunggu masa purnanya, sedang mengaduk teh di gelas kaca. Di sebelahnya, Mas Ilham yang kebetulan ada urusan dengan Ust Taufik datang ke ruang guru ke SMP duduk di sofa tamu sedang membaca berita di layar HP nya . Obrolan halaqoh sebelumnya masih terasa menggantung.

 

Tiba-tiba Mas Yusron dari staf tata usaha masuk dengan berkas di tangan dari pintu ruangan yang dibiarkan terbuka,

 

“Assalamu’alaikum…para ustadz ini ada dokumen tanda tangan untuk rekap evaluasi tengah semester,” ucapnya sambil membagikan map ke dua meja yang berhadapan.

 

“Wa’alaikumussalam… Sini, akhii. Duduk dulu. Sambil nyicip ketela,” ajak Pak Wawan, sambil menarik kursi di sebelahnya. Mas Yusron tersenyum dan menaruh tas kecilnya, lalu duduk.

 

Obrolan ringan pun dimulai, dari kabar harga bensin hingga giliran piket jumat. Tapi perlahan percakapan mulai mengarah pada hal yang lebih dalam.

 

“Antum pernah terpikir nggak, nanti kalau kita sudah nggak di sini, apa yang kita tinggalkan?” tanya Pak Wawan sambil menatap ke luar pintu.

 

Ilham yang sedari tadi diam, tersenyum lalu menjawab, “Paling tinggal nama di laci meja atau absen fingerprint atau foto foto di album sekolah ustadz.”

 

Tawa kecil pecah, tapi hanya sebentar. Selanjutnya hening kembali.

 

“Seriuuus,” lanjut Pak Wawan, “saya kadang kepikiran. Saya sudah ngajar hampir 25 tahun. Tapi apakah ada yang betul-betul saya tinggalkan sebagai jejak? Sebagai warisan kebaikan?”

 

Ustadz Taufik masuk ke ruangan beberapa saat kemudian. Setelah sebelumnya samar samar mendengar perbincangan apra ustadz, saat cuci tangan di wastafel depan ruang guru, sambil meletakkan map di atas meja dan ikut duduk di kursi yang menghadap ke arah mereka. “Itu yang disebut dengan legacy, Pak Wawan. Sesuatu yang tetap hidup meski orangnya sudah tak ada.”

Teras Hikmah Episode 3
Teras Hikmah Episode 3

Yusron mengangguk pelan. “Kalau begitu, bentuk legacy itu harus seperti bangun sekolah atau nulis buku, ya, Ustadz?”

 

“Tidak selalu,” jawab Ustadz Taufik sambil membuka tutup gelasnya. “Legacy bisa dalam bentuk hal kecil, tapi dampaknya panjang. Mendidik satu orang yang kelak jadi pembina hebat, atau menularkan semangat tarbiyah yang menular ke banyak orang. Semua itu bisa menjadi warisan yang mengalirkan pahala.”

 

Pak Wawan menimpali, “Saya dulu diajak ngajar oleh pendiri yayasan, padahal waktu itu saya tidak punya pengalaman meskipun ijazah saya guru. Tapi ternyata, dengan terus membersamai anak-anak dan rekan kerja, dari situlah saya pelan-pelan merasa, mungkin ini jejak yang saya bisa wariskan.”

 

Ilham yang sejak awal hanya menyimak, akhirnya bicara. “Tapi Ustadz… saya merasa belum cukup. Masih sering lelah, kadang urusan rumah tangga saja belum rapi, kadang terlambat, Apa iya saya bisa meninggalkan jejak yang berarti?”

 

“Akh Ilham,” jawab Ustadz Taufik sambil menatapnya tenang, “justru kita semua memulai dari sana—dari rasa belum cukup. Tapi kalau kita menunggu waktu sempurna, legacy itu tidak akan pernah ada. Kita ini bukan orang hebat. Tapi kita punya kesempatan untuk menanam. Dan siapa pun yang menanam dengan ikhlas, Allah akan tumbuhkan buahnya—walaupun bukan kita yang memetiknya, insya Alloh”

 

Mas Yusron menyandarkan punggungnya ke sofa, “Jadi sebenarnya… selama kita niatkan untuk mendampingi, membina, dan melanjutkan perjuangan, kita sedang membangun legacy?”

 

“Betul,” jawab Ustadz Taufik. “Dan tanggung jawab itu sekarang ada di pundak kita. Terutama antum-antum yang dipercaya membina guru-guru baru. Ajak mereka berjalan, bukan hanya bekerja. Dampingi mereka menjadi pelayan ilmu, bukan sekadar pencatat nilai. Bantu mereka mencintai tarbiyah seperti kita dulu dibantu.”

 

Pak Wawan mengangguk dalam. “Saya sepakat. Jangan sampai nanti kita meninggalkan lembaga ini hanya dengan kenangan formal. Tapi tak meninggalkan penerus ruh dakwah.”

 

Angin siang berembus agak hangat melalui pintu yang terbuka. Suara anak anak mulai sesekali terdengar pertanda pelajaran ada yang telah selesai… Waktu dhuhur semakin dekat. Tapi di ruang guru itu, sesuatu terasa makin hangat, bukan karena teh atau ketela goreng, tapi karena kesadaran pelan-pelan tumbu, bahwa warisan terbaik dari seorang pembina bukanlah pujian, tapi penerus.

 

 

📌 Catatan Serambi,

Warisan tak mesti besar. Tapi harus ada. Karena yang tak pernah menanam, takkan pernah meninggalkan jejak yang layak diingat.

 

🕊️

#SerambiTarbiyah | Bangun Jejak, Bekal Akhirat.

#diambildaribukugumregahtarbiyah

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan