Perang selalu meninggalkan luka mendalam dalam sejarah umat manusia. Ketika konflik global kembali memanas, sebagian pihak kembali mempertanyakan ajaran Islam terkait perang. Sebagian orang bahkan menyudutkan Islam karena aksi kelompok yang mengatasnamakan agama. Namun, ajaran Islam sejati justru menekankan kasih sayang, keadilan, dan perdamaian.
Islam berasal dari akar kata salam, yang berarti damai. Setiap Muslim mengucapkan “Assalamu’alaikum” sebagai bentuk doa dan harapan akan keselamatan bagi sesama. Maka, perdamaian menjadi prinsip utama dalam ajaran Islam.
Contents
Perang dalam Islam: Pilihan Terakhir untuk Membela Diri
Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah memulai perang untuk menyebarkan agama. Beliau memimpin umat Islam dalam peperangan hanya ketika musuh menyerang terlebih dahulu atau mengancam keamanan dakwah.
Surah Al-Baqarah ayat 190 menggarisbawahi prinsip penting
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Baqarah : 190)
Ayat ini adalah ayat Madaniyah yang termasuk ayat-ayat pertama yang memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi orang-orang musyrik, apabila kaum Muslimin mendapat serangan yang mendadak, meskipun serangan itu terjadi pada bulan-bulan haram, yaitu pada bulan Rajab, Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, seperti dijelaskan pada ayat yang lalu. Pada zaman jahiliah, bulan-bulan tersebut dianggap bulan larangan berperang. Larangan itu oleh Islam diakui, tetapi karena orang-orang musyrik melanggarnya terlebih dahulu, maka Allah swt mengizinkan kaum Muslimin membalas. Ini artinya, sekalipun perang diperbolehkan, tetap harus dalam batas etika dan aturan yang ketat. Pembelaan tidak boleh berubah menjadi agresi.
Jika kita meninjau sejarah Perang Dunia, kita menyaksikan bahwa banyak negara terlibat dalam konflik karena ambisi kekuasaan. Islam memberikan pelajaran penting bahwa perang tidak boleh terjadi kecuali sebagai upaya mempertahankan hak dan martabat manusia.
Baca Juga : Rahasia Orang Tua di Palestina dalam Mendidik Anak
Perang dalam Islam: Menjaga Nilai Kemanusiaan
Islam menetapkan aturan ketat saat menghadapi peperangan. Nabi Muhammad ﷺ melarang pasukannya membunuh wanita, anak-anak, orang tua, serta mereka yang tidak terlibat dalam perang. Beliau juga mencegah perusakan tanaman dan pembantaian hewan secara sia-sia. Islam tidak membenarkan pelampiasan emosi di medan perang.
فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۚ فَاِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Dalam Surah At-Taubah ayat 5, yang sering disalahpahami sebagai ajakan kekerasan, Allah memerintahkan untuk memerangi musuh dalam kondisi perang terbuka. Namun, ayat ini dilanjutkan dengan ayat ke-6 yang menegaskan bahwa jika musuh meminta perlindungan, maka umat Islam wajib melindungi dan mengantarkannya ke tempat yang aman. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan terhadap lawan.
Kategori Musuh dan Sikap Umat Islam
Umat Islam dianjurkan untuk memerangi kaum kafir apabila mereka sudah memulai peperangan, baik itu di negeri mereka ataupun di negeri orang lain. Dikutip dari laman islami.co bahwasannya Pada zaman Rasulullah terdapat tiga jenis golongan orang kafir. Diantaranya :
-
Kafir Harbi – Non-Muslim yang memerangi umat Islam. Mereka boleh diperangi untuk membela diri.
-
Kafir Musta’man – Non-Muslim yang tinggal sementara di negara Islam; wajib diberi perlindungan.
-
Kafir Dzimmi – Non-Muslim yang hidup menetap di wilayah Islam; hak dan keamanan mereka harus dijaga.
Hal ini menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan permusuhan kepada semua yang berbeda keyakinan. Justru, Islam menuntun umatnya untuk berlaku adil dan menjunjung hak hidup semua manusia.
Islam Menjawab Tantangan Zaman dari Bayang-Bayang Perang Dunia
Di tengah potensi konflik global yang menyerupai Perang Dunia, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga komitmen terhadap nilai-nilai Islam di saat dunia cenderung memilih kekerasan. Meneladani Rasulullah ﷺ dalam menghadapi ancaman dan tekanan adalah langkah terbaik. Beliau selalu mengedepankan perdamaian, memberi perlindungan bahkan kepada musuh, dan hanya memilih jalan perang jika tidak ada lagi opsi damai.
Dengan memahami konteks ajaran Islam yang sebenarnya, umat Muslim bisa menjadi agen perdamaian, bukan hanya di wilayahnya sendiri, tetapi juga di kancah dunia. Islam bukan pengobar perang, tetapi penjaga peradaban. Maka dalam kondisi dunia yang retak oleh konflik, ajaran Islam menjadi penyejuk yang mampu menawarkan harapan dan solusi.
