Khutbah Jumat : Cara Mensyukuri Nikmat Allah
Contents
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا نِعَمًا كَثِيْرَةً ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Alhamdulillah, di tengah kesibukan dunia, Allah masih memberi kita kekuatan untuk memenuhi panggilan suci ini. Kekuatan itu lahir dari keyakinan yang mendalam bahwa hidup kita tidak hanya tentang mengejar kenikmatan duniawi, tetapi juga meraih kebahagiaan ukhrawi.
Shalawat dan salam tak lupa kita sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga kita termasuk umat yang kelak mendapatkan syafaat beliau. Amin.
Khatib berwasiat, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, semoga kita menjadi hamba yang istikamah hingga akhir hayat.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita merenungkan tema cara Mensyukuri Nikmat Allah.
Kata nikmat berasal dari bahasa Arab, na’ima, yang secara etimologi berarti hidup dalam kesenangan dan kebahagiaan. Menurut M. Quraish Shihab, nikmat mencakup segala hal yang membawa kenyamanan, baik berupa materi maupun non-materi, di dunia maupun di akhirat.
Nikmat yang Allah berikan kepada kita sungguh tak terhitung. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 18:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا
“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl [16]: 18)
Mengingat begitu melimpahnya karunia tersebut, salah satu kewajiban utama kita adalah mensyukurinya. Janji Allah bagi hamba yang bersyukur sangat jelas, sebagaimana dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata syukur (syakara) adalah lawan dari kata kufur (kafara). Jika kufur berarti ‘menutupi’ nikmat, maka syukur berarti ‘menampakkan’ nikmat, yaitu dengan menggunakannya sesuai kehendak Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah SWT.
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatihul Ghaib, menyimpulkan bahwa hakikat syukur adalah pengakuan diri atas nikmat dari Allah. Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat, dan sebaliknya, ingkar nikmat akan berujung pada penderitaan.
Lalu, bagaimana cara kita mensyukuri nikmat Allah ini? Imam Al-Ghazali merangkumnya dalam empat cara praktis:
-
Bersyukur dengan Hati
Ini adalah fondasi utama. Bersyukur dengan hati berarti menyadari sepenuhnya bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, adalah anugerah dan kemurahan dari Allah SWT. Kesadaran ini akan menumbuhkan sikap ikhlas dan rasa cukup dalam diri kita, tanpa ada kekecewaan. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ
“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah.” (QS. An-Nahl [16]: 53)
-
Bersyukur dengan Lisan
Setelah hati menyadari, secara spontan lisan akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Kata ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah-lah yang paling berhak menerima segala pujian. Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini, beliau selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, baik saat bangun maupun saat akan tidur.
-
Bersyukur dengan Perbuatan
Syukur tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan. Ini berarti menggunakan segala nikmat yang kita terima di jalan yang diridai Allah. Jika kita diberi kesehatan, gunakan untuk beribadah dan membantu orang lain. Jika kita diberi rezeki, gunakan untuk bersedekah dan menolong sesama yang membutuhkan. Setiap kebaikan yang kita lakukan adalah bentuk nyata dari rasa syukur kita.
-
Menjaga Nikmat dari Kerusakan
Setelah nikmat diterima dan digunakan, kita wajib menjaganya. Jika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kita harus menjaga tubuh agar tetap sehat. Jika kita diberi nikmat iman dan Islam, kita harus menjaganya dengan salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menghadiri majelis ilmu. Menjaga nikmat berarti memelihara karunia Allah agar tidak berkurang atau hilang.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Kesimpulannya, nikmat Allah tak terhitung. Kewajiban kita adalah mensyukurinya dengan hati, lisan, dan perbuatan, serta menjaganya sebaik mungkin. Semoga dengan bersyukur, iman dan takwa kita kepada Allah SWT semakin meningkat.
Semoga Allah senantiasa memberi kita kemudahan untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan kelak mengumpulkan kita bersama golongan orang-orang yang bersyukur. Amin ya rabbal alamin.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
.أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى -عِبَادَ اللَّهِ- حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوا مِنَ الْإِسْلَامِ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى. وَاعْلَمُوا أَنَّ أَجْسَادَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى
.ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Doa
.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
.اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ
.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.أَقِمِ الصَّلَاة
