اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَهَدَاهُ النَّجْدَيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dialah yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali hadir di rumah-Nya pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini. Di mimbar yang mulia ini, pada waktu yang penuh keberkahan, marilah sejenak kita menundukkan hati dan merenungi satu perkara paling mendasar dalam kehidupan seorang hamba. Perkara yang menentukan bernilai atau tidaknya seluruh amal, besar atau kecilnya sebuah perbuatan, diterima atau tertolaknya ibadah kita di sisi Allah. Perkara itu adalah niat.
Para ulama salaf telah lama mengingatkan kita tentang kedudukan niat. Salah satunya, Yahya bin Mu‘adz ar-Razi rahimahullah berkata:
الْأَبْدَانُ فِي سَجْنِ النِّيَّاتِ
“Seluruh gerak tubuh berada dalam penjara niat.”
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Renungkanlah kalimat ini. Tubuh kita boleh bergerak, tangan kita boleh bekerja, kaki kita boleh melangkah, mata kita boleh memandang, dan lisan kita boleh berbicara. Namun semua itu sejatinya tidak pernah bebas. Ia tunduk sepenuhnya pada satu penguasa bernama niat. Niatlah yang mengarahkan, niatlah yang memimpin, dan niat pulalah yang menentukan arah amal kita: menuju Allah atau justru menjauh dari-Nya.
Rasulullah ﷺ telah menegaskan prinsip agung ini dalam hadits yang sangat masyhur:
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan contoh yang sangat jelas:
“Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya bernilai hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraih atau karena wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya hanya bernilai sesuai dengan tujuan tersebut.”
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Niat bukanlah lafaz yang ramai di lisan. Niat bukan pula sekadar slogan yang diumumkan. Niat adalah kerja hati yang paling sunyi, yang tidak bisa dipamerkan dan tidak bisa dipalsukan di hadapan Allah. Manusia boleh terkecoh oleh penampilan lahiriah, tetapi Allah Maha Mengetahui isi hati setiap hamba-Nya.
Seseorang bisa saja mengumumkan amalnya, memamerkan kebaikannya, bahkan membungkus ibadahnya dengan citra yang indah. Namun jika niatnya tercemar oleh dunia, maka di sisi Allah amal itu kehilangan nilainya.
Allah Ta‘ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan balasan amal mereka di dunia secara sempurna. Namun di akhirat, mereka tidak mendapatkan apa pun kecuali neraka. Lenyaplah seluruh amal yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka lakukan.”
(QS. Hud: 15–16)
Subhanallah. Betapa mengerikannya keadaan ini. Amal tampak besar di mata manusia, tetapi hancur di hadapan Allah. Dipuji di dunia, namun bangkrut di akhirat. Tidak tersisa satu pun pahala sebagai bekal menghadap Rabb semesta alam.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Yahya bin Mu‘adz ar-Razi rahimahullah membagi manusia berdasarkan niatnya menjadi tiga golongan.
Pertama, mereka yang disibukkan oleh dunia hingga lalai dari Allah. Inilah golongan yang celaka, yang hatinya terpenjara oleh syahwat dan ambisi duniawi.
Kedua, mereka yang beramal untuk mengejar pahala dan surga. Ini adalah niat yang baik, namun masih berada pada tingkatan menengah.
Ketiga, mereka yang beribadah semata-mata karena Allah, mengharapkan ridha-Nya tanpa pamrih apa pun. Inilah derajat tertinggi, derajat orang-orang yang ikhlas.
Beliau juga menegaskan:
“Seseorang yang hatinya selalu bersama kebaikan, maka keburukan di sekitarnya tidak akan membahayakannya. Sebaliknya, orang yang hatinya condong kepada keburukan, maka kebaikan di sekelilingnya tidak akan mampu menyelamatkannya.”
Allah Ta‘ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْۚ لَا يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian jika kalian telah mendapat petunjuk. Kepada Allah-lah kalian semua kembali, lalu Dia akan memberitakan apa yang telah kalian kerjakan.”
(QS. al-Maidah: 105)
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Abu Sa‘id al-Kharraz rahimahullah mengingatkan dengan sangat tegas:
“Setiap niat batin yang tidak selaras dengan perbuatan lahir, maka amal itu tertolak dan sia-sia.”
Ini adalah peringatan bagi kita semua agar tidak terjebak dalam kemunafikan. Jangan sampai lahir kita tampak saleh, namun batin kita dipenuhi penyakit hati. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang mengaku menginginkan kebaikan, tetapi sejatinya menyimpan niat buruk, sebagaimana orang-orang munafik yang membangun masjid bukan untuk Allah, tetapi untuk memecah belah umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Ahmad bin Ashim al-Antaki rahimahullah berkata:
“Jika engkau ingin memperbaiki hatimu, maka bantulah ia dengan menjaga lisanmu.”
Janganlah kita gemar berbicara tentang kejujuran, sementara lisan kita masih akrab dengan dusta. Janganlah kita berbicara tentang tawadhu‘, sementara hati kita dipenuhi kesombongan. Janganlah kita berbicara tentang amanah, sementara pengkhianatan masih kita lakukan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Abu Sa‘id al-Kharraz rahimahullah kembali mengingatkan:
“Tanda hati yang tenang bersama Allah adalah ketika seseorang lebih yakin kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.”
Sebesar apa pun ujian yang kita alami, itu tidak sebanding dengan satu nikmat Allah yang kita terima. Maka sebelum kita mengeluh, bertanyalah pada diri sendiri:
Apakah Allah pernah ingkar janji?
Apakah Allah pernah lalai?
Apakah Allah pernah zalim kepada hamba-Nya?
Allah Ta‘ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sementara kamu tidak mengetahui.”
(QS. al-Baqarah: 216)
Semoga Allah membersihkan niat-niat kita, meluruskan amal-amal kita, dan menjadikan seluruh ibadah kita ikhlas hanya karena-Nya.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
.أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى -عِبَادَ اللَّهِ- حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوا مِنَ الْإِسْلَامِ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى. وَاعْلَمُوا أَنَّ أَجْسَادَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى
.ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Doa Penutup
.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
.اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ
.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.أَقِمِ الصَّلَ
