Dalam beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh kebijakan sejumlah pemerintah daerah yang mengirim anak-anak dan remaja bermasalah ke barak militer untuk dibina. Anak-anak yang terlibat tawuran, kecanduan gim daring, atau pergaulan bebas dianggap perlu “dibentuk ulang” melalui pendekatan disiplin ketat ala militer.
Namun, sebagai umat Islam yang menjadikan pendidikan sebagai sarana membentuk akhlak mulia, kita patut merenung: apakah ini jalan terbaik dalam membina generasi? Apakah mendidik dengan tekanan lebih baik daripada membimbing dengan kasih sayang dan teladan?

Contents
Disiplin dan Tarbiyah dalam Islam
Tak diragukan, Islam menjunjung tinggi nilai disiplin dan ketaatan terhadap kebaikan. Allah ﷻ berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab dalam mendidik keluarga, termasuk anak-anak. Namun pendidikan dalam Islam bukan sekadar soal menghindarkan dari kesalahan, tetapi juga soal menumbuhkan cinta kepada kebenaran, memupuk kesadaran batin, dan membangun akhlak yang kokoh.
Program barak militer mungkin membentuk keteraturan perilaku dalam waktu singkat. Tapi benarkah dua minggu cukup untuk mengubah hati dan karakter? Rasulullah ﷺ sendiri menghabiskan 23 tahun untuk membina akhlak umat, melalui pendekatan yang lembut dan berproses.
Mendidik Bukan Menghukum
Rasulullah ﷺ adalah pendidik sejati yang tidak pernah memarahi anak kecil atau mempermalukan mereka. Dalam Islam, anak dipandang sebagai amanah, bukan beban. Maka ketika anak dikirim ke barak tanpa pendampingan psikologis atau persetujuan keluarga, kita perlu bertanya: di mana letak rahmah dalam kebijakan ini?
Allah ﷻ mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak cucu Adam…”
(QS. Al-Isra: 70)
Memuliakan manusia termasuk menjaga martabat anak-anak dalam proses pendidikan. Mereka bukan objek eksperimen kebijakan, melainkan jiwa yang sedang tumbuh dan sangat rentan terluka.
Baca Juga : Hari Pendidikan Nasional dan Rasulullah Sebagai Teladan Pendidikan Hari ini
Hak Anak dan Jalan Rehabilitasi
Dalam pandangan Islam, anak yang menyimpang bukan untuk dihukum secara represif, tetapi diarahkan melalui ta’lim (pengajaran) dan tazkiyah (penyucian jiwa). Kebijakan militeristik memang terlihat tegas, namun belum tentu menumbuhkan kesadaran moral, empati, dan tanggung jawab sosial.
Sebagaimana firman Allah:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”
(QS. An-Nahl: 125)
Pendekatan yang penuh hikmah, bukan tekanan, adalah metode dakwah dan pendidikan yang diajarkan Al-Qur’an. Maka solusinya bukan barak, melainkan ruang-ruang pendidikan yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan pendampingan psikologis yang islami.
Menata Ulang Arah Pendidikan Karakter
Beberapa pemerintah daerah sudah mulai beralih ke pendekatan yang lebih ramah anak—membangun taman baca, menyediakan pusat kegiatan remaja, dan memberdayakan komunitas. Inilah contoh ijtihad sosial yang lebih selaras dengan semangat pendidikan Islam: rahmatan lil ‘alamin.
Sebagaimana dalam pendidikan Rasulullah ﷺ, karakter tidak dibentuk dengan bentakan, tetapi dengan doa, dialog, dan keteladanan. Maka pendidikan sejati bukan tentang penundukan perilaku secara cepat, melainkan menumbuhkan akal dan melembutkan hati secara bertahap.
Pendidikan adalah Amanah, Bukan Eksperimen
Pendidikan bukan ladang uji coba kebijakan jangka pendek. Ia adalah amanah besar yang menuntut kita untuk berpikir panjang, bersikap lembut, dan tetap berpihak kepada hak anak sebagai makhluk mulia.
Jika akar dari kenakalan remaja adalah hilangnya arah hidup, maka solusinya bukan teriakan komando, tetapi pendidikan ruhani yang membumi dan membimbing. Kembalikan pendidikan kepada jalan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ: jalan rahmah, hikmah, dan keteladanan.
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Pingback: SMAIT Assalaam Gelar Seminar Parenting Tentang Komunikasi Efektif Orang Tua dan Remaja