Perbedaan Tawakal

Apa Perbedaan Tawakal dan Pasrah? Ini Perbedaannya yang Masih Banyak Disalahpahami

Apa Perbedaan Tawakal dan Pasrah?

Tidak sedikit orang yang menganggap tawakal dan pasrah memiliki makna yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Kesalahan memahami dua istilah ini sering membuat seseorang memilih diam ketika menghadapi masalah, lalu menganggap sikap tersebut sebagai bentuk tawakal. Padahal dalam Islam, tawakal justru mengajarkan seorang Muslim untuk tetap berusaha semaksimal mungkin sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Lalu, apa sebenarnya perbedaan tawakal dan pasrah? Mari kita bahas satu per satu.

Tawakal Adalah Bersandar kepada Allah Setelah Berusaha

Secara bahasa, tawakal berasal dari kata wakala yang berarti menyerahkan atau mempercayakan. Dalam istilah syariat, tawakal adalah menyerahkan seluruh hasil kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar terbaik. Allah SWT berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩

“…Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menunjukkan bahwa keputusan, usaha, dan ikhtiar dilakukan terlebih dahulu. Setelah itu barulah seorang hamba bertawakal kepada Allah. Dengan kata lain, tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Pasrah Bisa Bermakna Positif maupun Negatif

Dalam bahasa Indonesia, pasrah berarti menyerahkan diri atau menerima keadaan. Jika pasrah dimaknai sebagai menerima ketetapan Allah setelah berusaha, maka hal tersebut tidak bertentangan dengan Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, pasrah sering diartikan sebagai:

  • Tidak mau berusaha.
  • Menyerah sebelum mencoba.
  • Tidak mencari solusi.
  • Membiarkan keadaan berjalan begitu saja.

Sikap seperti inilah yang berbeda dengan tawakal.

7 Perbedaan Tawakal dan Pasrah

1. Tawakal Selalu Didahului Ikhtiar

Orang yang bertawakal akan melakukan usaha terbaik sesuai kemampuannya. Sebaliknya, orang yang hanya pasrah sering kali tidak melakukan tindakan apa pun.

2. Tawakal Memiliki Perencanaan

Seorang Muslim dianjurkan untuk merencanakan langkah-langkah terbaik. Misalnya belajar sebelum ujian, bekerja mencari nafkah, berobat ketika sakit, menabung untuk kebutuhan masa depan. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar.

3. Tawakal Tidak Menghilangkan Tanggung Jawab

Tawakal bukan alasan untuk menghindari kewajiban. Seorang kepala keluarga tetap wajib bekerja. Seorang pelajar tetap harus belajar. Seorang pedagang tetap harus berdagang dengan jujur.

4. Pasrah yang Keliru Cenderung Menyerah

Ucapan seperti berikut sering terdengar: “Ya sudah, kalau memang rezeki pasti datang sendiri.” Padahal rezeki perlu dijemput dengan usaha yang halal. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan bahwa burung keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

5. Tawakal Melahirkan Ketenangan

Karena telah berusaha maksimal, seseorang tidak akan terlalu larut dalam penyesalan ketika hasilnya belum sesuai harapan. Ia yakin bahwa Allah memilihkan yang terbaik.

6. Pasrah yang Salah Bisa Membuat Seseorang Tidak Berkembang

Jika seseorang selalu berkata, “Saya pasrah saja.” tetapi tidak pernah memperbaiki diri, maka peluang untuk berkembang menjadi semakin kecil. Islam justru mendorong umatnya menjadi pribadi yang aktif dan produktif.

7. Tawakal Membuat Hati Tetap Optimis

Orang yang bertawakal percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia. Walaupun hasilnya belum terlihat sekarang, Allah mengetahui seluruh jerih payah hambanya. Optimisme inilah yang membedakan tawakal dengan sikap menyerah.

Contoh Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh sederhana.

Saat Mencari Pekerjaan

 Pasrah:

  • Tidak membuat CV.
  • Tidak melamar pekerjaan.
  • Hanya menunggu panggilan.

Tawakal:

  • Memperbaiki CV.
  • Mengirim lamaran ke berbagai perusahaan.
  • Meningkatkan kemampuan.
  • Berdoa dan menyerahkan hasil kepada Allah.

Saat Menghadapi Ujian

❌ Pasrah:

  • Tidak belajar.
  • Berharap soal mudah.

✅ Tawakal:

  • Belajar dengan sungguh-sungguh.
  • Berlatih mengerjakan soal.
  • Berdoa sebelum ujian.
  • Menerima hasil dengan lapang dada.

Saat Berdagang

❌ Pasrah:

  • Tidak mempromosikan dagangan.
  • Tidak meningkatkan pelayanan.

✅ Tawakal:

  • Menjual barang berkualitas.
  • Melayani pelanggan dengan baik.
  • Jujur dalam transaksi.
  • Berdoa memohon keberkahan rezeki.

Mengapa Banyak Orang Masih Keliru?

Ada beberapa penyebab mengapa tawakal sering disamakan dengan pasrah.

Di antaranya:

  • Kurang memahami makna tawakal menurut syariat.
  • Menganggap usaha tidak memengaruhi hasil.
  • Salah memahami konsep takdir.
  • Terbiasa mendengar istilah “pasrah” dalam kehidupan sehari-hari tanpa memahami konteksnya.

Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar, doa, dan tawakal. Ketiganya saling melengkapi, bukan dipisahkan.

Cara Menumbuhkan Sikap Tawakal

Jika ingin memiliki tawakal yang benar, cobalah membiasakan beberapa hal berikut.

  • Niatkan setiap usaha karena Allah.
  • Maksimalkan ikhtiar sesuai kemampuan.
  • Perbanyak doa.
  • Hindari putus asa ketika gagal.
  • Yakin bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik.
  • Evaluasi usaha tanpa menyalahkan takdir.

Perbedaan tawakal dan pasrah terletak pada usaha yang mendahuluinya. Tawakal adalah bentuk keimanan yang aktif. Seorang Muslim bekerja keras, berikhtiar, berdoa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sementara itu, pasrah yang dimaknai sebagai menyerah tanpa usaha bukanlah sikap yang diajarkan dalam Islam. Semoga kita termasuk hamba yang selalu berikhtiar dengan sungguh-sungguh, kemudian bertawakal kepada Allah dalam setiap urusan.

Baca Juga : 7 Cara Melatih Tawakal agar Hati Lebih Tenang Menurut Islam

Tinggalkan Balasan