You are currently viewing Jika Magnet Itu Belum Menarik, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Jika Magnet Itu Belum Menarik, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Halaqah malam ini, giliran di gazebo pondok, tolalet bis yang lewat exit toll sering menjadi sisipan suara, diantara i’lan pondok oleh para santri…angin malam cukup dingin. Didinding gazebo masih tertulis pelajaran santri tadi siang.

Mas Ilham sudah lebih dulu datang dan sedang membuka catatan halaqah sebelumnya. Pak Wawan, menyusul sambil membawa dua kantong berisi roti sobek dan air murni kemasan. Pak Rifa’i yang juga sdh hadir menyambut dengan ringan, “Ganti kopi dengan roti sekarang, akhii?”

“Ekonomi menyesuaikan,” jawab Pak Wawan sambil tersenyum.
Mas Yusron datang terakhir, namun masih belum terlambat,

Setelah baramij awal, lanjut Ustadz Taufik , menyapa lembut, “Assalamu’alaikum warahmatullah…”
“Wa’alaikumussalaam warahmatullah,” jawab mereka serempak.

Sambi duduk bersila dan membuka halaqah, Ustadz Taufik membuka dengan muqaddimah, lalu menengok pada Mas Ilham.

“Masih ingat Ghulam dan Rahib?” tanya beliau.

Ilham mengangguk, “Na’am ustadz… pertemuan singkat yang menanam magnet.”

“Pertanyaannya,” Ustadz Taufik melanjutkan pelan, “bagaimana kalau kita — para murobbi hari ini — tidak langsung berhasil seperti Rahib? Bagaimana kalau pertemuan pertama kita dengan mutarabbi… terasa datar? Tidak langsung klik? Apa yang harus dilakukan?”

Pak Rifa’i mengangkat alis. “Wah… itu relate ustadz. Kadang sudah ngajak halaqah, sudah ngajak diskusi… tapi mereka ya biasa aja. Bahkan kadang lupa ikut.”

Mas Yusron menimpali, “Mungkin karena magnet kita belum nyetrum ya, he he…”

Ustadz Taufik tersenyum. Lalu berkata tegas, “Ikhwatii fillah, tidak semua rahib itu langsung berhasil. Bahkan para Nabi pun — seperti Musa dan Nuh — mengalami penolakan berkali-kali. Kalu para nabi tentu bukan karena kurang kuatnya Magnet namun dari faktor kaumnya, namun bagi kita, jika magnet kita belum menarik, yang perlu kita bangun adalah dua hal, pertama ketulusan yang istiqamah, dan kedua kebermanfaatan yang dirasa.”

Semua terdiam. Ustadz Taufik melanjutkan.

“Ketulusan itu akan menumbuhkan kepercayaan, dan kebermanfaatan akan melahirkan ketertarikan. Jangan buru-buru menuntut mutarabbi merasa ‘dekat’ dengan kita, tapi pastikan dulu bahwa kita hadir sebagai pembina yang bisa mereka percaya dan rasakan manfaatnya.”

Pak Rifa’i mengangguk. “Jadi, mungkin bukan mereka yang belum tertarik… tapi kita yang belum cukup ‘hadir’ dalam kehidupan mereka?”

“Na’am. Tepat, akhii…” jawab Ustadz Taufik. “Kita perlu membangun jembatan emosional — bukan hanya lewat materi, tapi lewat akhlak, perhatian, bahkan kadang cukup dengan mendoakan mereka secara khusus.”

Mas Ilham bertanya lirih, “Ustadz, apa contoh konkretnya? Maksudnya gimana cara membangun ketertarikan secara bertahap?”

Ustadz Taufik membuka catatannya. “Beberapa hal bisa kita lakukan:
1. Konsistensi waktu — hadir tepat, rutin, tanpa alasan-alasan remeh. Itu membangun rasa hormat.
2. Personal touch — tahu ulang tahun mereka, kesukaan mereka, atau masalah yang sedang dihadapi. Itu menunjukkan bahwa kita peduli.
3. Menjadi solusi kecil — bantu mereka dalam tugas, ajak diskusi yang menyenangkan, beri buku yang cocok. Itu menjadikan kita relevan.
4. Doa dan ketulusan ruhiyah — jangan remehkan kekuatan doa pembina. Kadang Allah gerakkan hati mutarabbi bukan karena kata-kata kita, tapi karena tangisan kita dalam munajat.”

Pak Wawan yang tadi diam, menyahut lirih. “Jadi… daya tarik itu bisa dibangun. Pelan-pelan. Yang penting tidak berhenti berusaha?”

“Na’am, akhii…” Ustadz Taufik menutup dengan senyum . “Kadang Rahib hanya muncul sekali. Tapi kita harus siap menjadi pembina yang hadir setiap pekan, setiap waktu. Karena bisa jadi, hidayah itu tidak turun pada pertemuan pertama. Tapi justru pada pertemuan ke-15. Maka jangan berhenti menanam. Karena siapa tahu, besok adalah waktu panen.”

Malam makin larut. Tapi cahaya dari halaqah itu terasa seperti suluh kecil, yang menyalakan harapan besar di dalam dada para murobbi.

Catatan Serambi:
Jika kita belum mampu seperti Rahib dalam satu pertemuan, maka jangan putus asa. Allah menilai kesungguhan, bukan hanya hasil. Bangunlah ketertarikan bukan dengan gimik, tapi dengan ruh. Hadirkan manfaat, hadirkan perhatian, dan teruslah hadir dengan cinta yang tak bersyarat. Karena bisa jadi, mereka bukan menolak kita… tapi sedang menunggu konsistensi kita.

 

Tinggalkan Balasan