Serambi Tarbiyah
Serambi Tarbiyah

Ustadz, Aku Capek Jadi Pembina

Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 1

Sore itu masjid sekolah sudah mulai teduh. Langit oranye keemasan memantul di lantai granit serambi yang bersih mengilap. Angin sore berembus pelan dari timur, membawa aroma rawa yang masih terbuka di balik pagar seng. Suara jangkrik mulai terdengar di sela-sela ilalang tinggi.

Masjid ini cukup megah, dengan pintu-pintu kaca bening berbingkai UPVC—campuran aluminium dan plastik keras yang tahan cuaca dan tampak bersih serta kokoh. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, memantulkan cahaya senja dengan anggun. Di halaman timur, berdiri sebatang pohon mangga yang belum terlalu besar. Daunnya jarang, dan justru ilalang kering yang lebih sering beterbangan, tersapu angin sore, melintasi ubin teras.

Ilham, guru muda Di SD itu, duduk bersandar di tiang masjid, lelah. Kemejanya lecek, sepatu sudah dilepas. Di tangannya, secangkir kopi hitam dari sachet murahan, tapi rasanya, sore itu, seolah lebih pahit dari biasanya.

Serambi Tarbiyah
Serambi Tarbiyah

Tak lama, Ustadz Taufik datang, ust yang diamanahi yayasan untuk ikut menjaga masjid, Wajahnya tenang seperti biasa. Ia membawa gelas teh hangat dan langsung duduk di sebelah Ilham.

Baca juga : Masalah dan Energi

“Ustadz,” kata Ilham tanpa prolog, “aku capek.”

“Capek kerja atau capek hati?” Tanya ust Taufik datar.

“Dua-duanya,” jawab Ilham. “Terutama… capek jadi pembina.”

Ustadz Taufik tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, menyeruput tehnya perlahan sambil menatap langit sebelah timur. Lalu meletakkannya di lantai. Hening. Daun ilalang jatuh menempel sebentar di kaca pintu masjid, lalu terbang lagi.

“Pernah dengar kisah Abu Khaitsumah, akhii?”

“Belum tadz?” Ilham mencoba mengingat dan menggeleng pelan

“Baik. Sedikit ustadz kisahkan yaa… Namun ini bukan kisah untuk dihafal. Tapi untuk digumamkan hati diambil ibroh.”

Ustadz Taufik mulai bercerita.

“Waktu itu sekitar bulan September-Oktober tahun 630 H, Rasulullah berangkat ke Tabuk. Panasnya luar biasa, dan kalau malam dingin. Jarak ± 683 kilometer. Gurun, debu, susah air. Dan Abu Khaitsumah tertinggal. Ia tidak ikut.”

Ilham mengernyit.
“Kenapa? Sakit?”

“Tidak. Ia baru saja pulang dari bepergian, pulang ke rumah. Dua istrinya telah menyambutnya dan siap melayani, ada pula makanan lezat, air dingin, dan kamar nyaman. Lengkap. Saya bayangkan pergolakan di dalam dirinya, Tapi ia gelisah. Duduk sebentar. Lalu bangkit. Ia berkata ‘Aku tidak pantas duduk di sini sementara Rasulullah dan para sahabat bermandikan peluh di jalan Allah.'”

Ilham menunduk. Daun kering tersapu angin berputar kecil, melewati ubin, menyentuh kaki mereka.

“Dia langsung minta disiapkan bekal. Memacu kudanya. Seorang diri. Di tengah gurun. Ketemu Umair bin Wahab, dan setelah dekat tabuk dia berkata ‘Aku harus duluan. Aku sedang menanggung kesalahan.’ Kudanya ia pacu makin cepat.”

“Dan sampai juga?”

“Ya. Dan saat Rasulullah melihat dari kejauhan, beliau tersenyum dan berkata “Itu pasti Abu Khaitsumah.’”

Ilham menatap lantai. Matanya tak berkedip.

“Akhii, dia tidak disuruh. Tidak ditegur. Tapi hatinya bangkit sendiri”, lanjut Ustadz Taufik

“Allahu Akbar,” gumam Ilham. “Aku sering ketinggalan. Tapi bukan malah mengejar… malah makin nyaman di belakang dan cari alasan.”

Ustadz Taufik mengangguk.
“Kita ini sering nya tahu kebenaran. Tapi sering justru pandai berdalih. Lagi lelah. Lagi sibuk. Belum saatnya. Padahal hati tahu… kita sudah tertinggal.”

Ustadz Taufik menambahkan “Dan kadang kita telah merasa menjadi pembina padahal baru jadi pengamat”

Ilham menyeka sudut matanya, yang cukup lelah setelah seharian mengajar anak-anak, ditambah kesadaran yang muncul.

“Aku nggak mau sekadar dikenal sebagai guru. Tapi tak hadir dalam barisan amal.”

Ustadz Taufik bangkit perlahan sambil menatap lekat Ilham.
“Kalau begitu, ayo kita pacu kuda kita. Sebelum rombongan terlalu jauh. Semoga suatu hari, Rasulullah berkata… ‘Itu pasti ilham.’”

Tarhim menjelang maghrib mengalun dari masjid kampung sebelah timur.
Senja makin tua. Tapi dalam dada Ilham, sesuatu mulai gumregah . Bukan semangat yang meledak-ledak. Tapi tekad tenang yang menyala… seperti api kecil yang baru ditiup angin.


📌 Catatan Serambi

“Berapa banyak dari kita tahu rombongan telah pergi, tapi memilih rebahan di rumah dengan dalih yang tertata rapi? Bangkitlah. Karena amal kebaikan… tak pernah menunggu.”

Serambi Tarbiyah | diolah dari buku gumregah tarbiyah

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan