☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 7, Seri 1
Rumah Ustadz Taufik malam itu menjadi tempat halaqah. Rumah kecil tipe 36 di tengah perumahan sederhana itu tampak bersih dan rapi. Rak buku di sudut ruang tamu menjadi pusat perhatian. Deretan judul seperti Fiqh Sirah, Majmu’atu Rasail Imam Hasan Al-Banna, serta kitab-kitab tafsir dan fiqih membentuk atmosfer khas rumah seorang murobbi.

Malam masih hangat oleh sisa hujan sore. Beberapa ikhwan mulai berdatangan, duduk lesehan melingkar di atas karpet biru polos. Di atas nampan kecil ada keripik tempe buatan Pak Wawan tersaji, juga ketela rebus dan segelas air jahe panas. Suasana akrab, meski diskusi yang akan dimulai tidak ringan.
Pak Wawan duduk bersandar di rak buku. Tangannya meraba salah satu buku berjudul yang berjatuhan di jalan Dakwah, tulisan ust Fathi Yakan, yang sudah tak muda lagi sampulnya, namun masih kokoh dijilid rapi.
Ustadz Taufik memulai, dengan suara khasnya yang tenang namun berisi. “Ikhwatii fillah… malam ini saya ingin kita menatap satu hal yang sangat dekat, tapi sering luput dari arah perjuangan kita yaitu dunia.”
Mas Ilham langsung menyimak dengan serius. Sementara Mas Yusron menyesap jahe panas perlahan karena masih panas.
Baca juga : The Hidden Creator: Sang Murabbi
“Dunia bukan hanya tentang harta, jabatan, atau pujian. Tapi juga tentang arah. Banyak orang awalnya berniat lillah, tapi lama-lama melenceng karena dunia menggoda dari arah yang tak disangka.”
Pak Rifai, yang sudah cukup senior di tarbiyah angkat suara pelan. “Ustadz, apakah ini yang disebut dalam tarbiyah sebagai inkhisarul himmah, penyempitan cita-cita?”
“Ya, akhi,” jawab Ustadz Taufik. “Dari cita-cita membina generasi jadi khulafaur rasyidin… bergeser jadi sekadar mengejar jabatan struktural, atau pujian atasan. Dan itu halus sekali caranya.”
Pak Wawan menimpali, “Saya pernah mendengar nasihat: ‘Banyak orang tak tergelincir karena dosa besar, tapi karena cinta dunia yang menyusup dalam amal-amal baik.’”
Ustadz Taufik mengangguk, lalu mengambil satu buku dari raknya dan membukanya. “Dalam buku Gumregah Tarbiyah disebut, dunia itu tak pernah mengaku musuh, tapi bisa merusak arah hidup seorang da’i jika tidak waspada. Itulah mengapa, orientasi kita harus selalu diperiksa : ‘apakah ini untuk Allah, atau untuk pengakuan dari manusia?”’
Mas Yusron tampak gelisah sejenak, lalu berkata, “Berarti murobbi pun bisa jadi korban dunia ya, ustadz?”
“Bisa, bahkan sering,” jawab Ustadz Taufik. “Bukan karena dia lemah dalam lisan, tapi lengah dalam hati. Maka satu-satunya cara adalah menjaga muru’ah. Harga diri sebagai pembawa risalah.”
“Dan muru’ah itu bukan soal penampilan saja?” tanya Pak Rifai.
“Bukan. Tapi tentang bagaimana kita menjaga kehormatan diri, tidak mengambil yang bukan haknya, tidak mencari pujian, tidak menggadaikan idealisme untuk kenyamanan. Termasuk juga tidak malas mengkaji dan memperbarui diri.”
Pak Wawan tersenyum lirih. “Makanya penting ya halaqah begini. Untuk saling ingatkan, meski saya sudah tua tidak jaminan, Kalau nggak, kita bisa kelihatan aktif tapi diam-diam sudah lari dari misi.”
Ilham menatap rak buku, lalu berkata lirih, “Saya jadi ingat, betapa sedikit waktu saya untuk membaca ulang kenapa saya dulu ikut tarbiyah. Padahal itu akar segalanya.”
Baca juga : Ustadz, Aku Capek Jadi Pembina
Ustadz Taufik tersenyum, “Karena itu, kita harus kembali membangun rumah kita sebagai rumah ilmu. Jangan sampai perpustakaan hanya hiasan, tapi tidak menyala dalam dada. Dan jangan sampai rumah tangga kita nyaman tapi lupa arah perjuangan.”
Malam makin tenang. Listrik sempat berkedip sebentar, namun obrolan para murobbi malam itu justru semakin menyala.
“InsyaAllah,” ujar Ustadz Taufik menutup, “di sesi berikutnya, kita akan bicara lebih dalam tentang tema ini”
—
📌 Catatan Serambi:
Tarbiyah bukan hanya tempat memberi, tapikan tempat kembali. Kembali mengingat dari mana arah kita dimulai.
🕊 #SerambiTarbiyah | #RumahMurobbi

Pingback: Ketika Dunia Menggoda di Tengah Jihad - YP2SI Al Ummah
Pingback: Jiwa-Jiwa yang Pergi, Muru’ah yang Harus Dilanjutkan - YP2SI Al Ummah