☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 5
Malam itu langit begitu jernih. Bintang-bintang terlihat lebih banyak dari biasanya. Udara di masjid sekolah terasa sejuk, masjid ini terletak beda lokasi dari sekolah boarding yang kemarin. Angin semilir menembus pintu kaca UPVC yang sedikit terbuka. Cahaya remang lampu masjid menyentuh lantai granit yang masih hangat oleh jejak langkah hari. Di pojok selatan bagian depan masjid, beberapa guru ikhwan mulai berkumpul untuk halaqah rutin malam Kamis.
Mereka duduk melingkar dengan alas karpet hijau keras. Di luar udara cukup dingin. Di tengah lingkaran, nampan rotan berisi singkong rebus dan kacang godhog jadi teman duduk mereka malam itu.

Ustadz Taufik datang agak telat malam itu. Tapi tak seorang pun mempersoalkannya. Karena beliau telah mengirim pesan WhatsApp sebelumnya ‘agak terlambat’. Justru saat ia duduk, semua langsung hening, karena tahu… malam ini bukan malam biasa.
“Ikhwanii fillah,” buka Ustadz Taufik dengan suara rendah, “berapa banyak dari kita yang merasa sudah cukup belajar karena sudah lama ikut tarbiyah”
Mas Yusron tertawa kecil. “Iya, Kadang merasa begitu, ustadz. Apalagi kalau jadwal padat dan tema halaqah kayaknya itu-itu aja, bosen juga kadang.”
Pak Wawan mengangguk, “Padahal di kehidupan sehari-hari dan peristiwa itu justru sering menjadi guru yang lebih pas dan sesuai ya?”
Ustadz Taufik tersenyum, lalu mengeluarkan buku kecil dari tas kecil di tanganya. “Antum pernah dengar istilah tarbiyah bil ahdats?”
Ilham langsung mengangguk. “Yang artinya tarbiyah lewat peristiwa, njih ustadz?”
“Betul akhii,” lanjut Ustadz Taufik, “dan itulah yang justru lebih lama melekat dalam jiwa seseorang. Bukan ceramah. Bukan seminar. Tapi peristiwa. Seperti kisah anak muda yang diberi pelajaran oleh gurunya dengan ditenggelamkan kepalanya ke ember, dan baru sadar betapa pentingnya oksigen bagi dia…”
Semua mengangguk ringan.
“Tarbiyah bil ahdats itu kadang mengejutkan. Tapi justru di situlah pelajaran hakiki terjadi. Bahkan Al-Qur’an mendidik generasi pertama Islam dengan peristiwa besar, Perang Badar misalnya.”
Baca juga : Ustadz, Aku Capek Jadi Pembina
Ust Taufik menatap satu per satu anggota halaqah, lalu melanjutkan,
“Nabi tidak langsung meminta sahabat perang. Awalnya Beliau SAW hanya mencegat kafilah dagang. Tapi tiba-tiba Allah ubah arah takdir, mereka harus menghadapi pasukan bersenjata. Tanpa perisai cukup. Tanpa strategi perang mapan. Tapi dari sanalah mereka belajar bahwa perjuangan tidak datang di atas karpet merah. Tapi di tengah debu, teriakan, luka, dan rasa takut.”
Pak Wawan menimpali lirih, “Masya Allah” dan melanjutkan “Kadang saya merasa, para murobbi hari ini pengennya anak-anak binaan langsung paham… langsung semangat… langsung dewasa. Padahal Rasulullah pun mendidik dengan badai peristiwa.”
“Masya Allah masya Allah,” ujar Ilham lirih dan spontan. “Jadi sebenarnya kita ini juga sedang disiapkan lewat peristiwa ya, Ustadz?”
“Betul,” jawab Ustadz Taufik lembut. “Dan kita nggak bisa memilih peristiwa, tidak seperti kita memilih tema kajian, yang kita bisa buka buka diktat atau web.”
Ust Taufik melanjutkan “Kadang bentuknya adalah anak binaan yang mundur. Kadang adalah konflik internal. Kadang adalah dipecut dari kenyamanan. Tapi di sanalah justru Allah sedang mengajarkan kita satu per satu syarat kemenangan seperti dalam Al-Anfal: iman yang mendalam, kesabaran, tidak saling bermusuhan, tidak riya’, tidak menghalangi jalan Allah…nah untuk yang ini nanti antum buka kembali Al anfal 45-49″
Mas Yusron berbisik, “Semacam training tanpa pamflet…”
“Dan itulah tarbiyah sejati, akhi,” ujar Ustadz Taufik sambil tersenyum. “Tarbiyah yang tidak selalu diberi lembar evaluasi… tapi tercatat kuat dalam catatan amal sebagai bagian dari perjalanan kita menuju Allah.”
Pak Wawan menata duduk silanya, menggaris bawah dengan kalimat yang membekas, “Kadang kita perlu ditenggelamkan sejenak… untuk tahu betapa berharganya satu tarikan nafas hidayah.”
—
📌 Catatan Serambi. “Ceramah bisa menginspirasi. Tapi peristiwa… mengubah dari dalam. Karena Allah punya cara mendidik yang tak pernah gagal namanya ‘tarbiyah bil ahdats‘.
🕊 #SerambiTarbiyah |
#GumregahTarbiyah
