Maulid Nabi: Jalan Cinta yang Tak Pernah Padam

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 6 (part 1)

 

Malam itu langit terasa bersih, seperti habis disapu angin sore. Cahaya lampu masjid memantul di permukaan granit yang halus, membentuk aura damai yang menenangkan. Di salah satu sisi serambi masjid, para guru ikhwan sudah duduk melingkar, tanpa karpet. Ada beberapa plastik berisi rebusan singkong, ubi, dan pisang kukus. Gelas kaca bening berisi jahe hangat dan teh manis mengembun perlahan. Sebuah malam yang dinanti nanti untuk saling bersua.

 

Pak Rifai hadir malam itu—sosok guru baru di halaqah pembina. Sebelumnya, beliau aktif di halaqah lain, tapi ustadz Taufik memintanya bergabung kembali ke kelompok ini. Sebagai bentuk penyegaran dan perluasan semangat. Beberapa ikhwan sudah mengenal dekat sebelumnya. Ia langsung menyatu, duduk di samping Pak Wawan yang menyambutnya dengan senyum hangat.

 

“Selamat datang, Pak Rifai. Duduk sini. Malam ini kita ngobrol, bukan dakwah formalitas. Tapi justru di sini ruh itu tumbuh,” ujar Ustadz Taufik membuka.

Semua tersenyum. Ilham yang biasanya cerewet, malam ini lebih banyak diam. Barangkali karena tema malam ini telah diumumkan sebelumnya ‘Maulid Nabi dan Pelajaran bagi Para Dai’.

 

Ikhwah, antum tahu,” ujar Ustadz Taufik perlahan, “ketika kita memperingati maulid Nabi, kadang kita fokus ke upacara, seremonial, atau narasi-narasi indah. Tapi jarang kita tarik benang merahnya bahwa Nabi itu seorang pembina jiwa. Murobbi sejati.”

 

Pak Rifai mengangguk pelan. “Kalau boleh berbagi ustadz… saya kadang menangis sendiri saat membaca dan merenung bagian awal sirah Nabawiyah, saat Nabi berdakwah sembunyi-sembunyi, dari rumah ke rumah, malam demi malam.”

 

Ia terdiam sejenak. Semua menoleh padanya. Mas Ilham meletakkan gelasnya, menanti kalimat berikutnya.

 

“Saya membayangkan, betapa sepinya beliau. Tapi beliau tetap hadir. Tetap konsisten. Setia kepada tugasnya. Karena beliau sadar… beliau tidak sedang cari followers ansih, tapi sedang menyiapkan pewaris cahaya.”

 

Pak Wawan menimpali lirih, “Dan yang menyentuh saya, Rasul itu tetap menyapa satu-satu, tidak memperdulikan berapa yang akan menerimanya. Tapi beliau tetap hadir. Dan… kita ini ikhwah..kadang, baru ditinggal satu atau dua binaan, sudah ingin menyerah, dan tidak semangat.”

 

Hening sesaat. Angin malam berhembus agak keras dari sebelah timur, membawa aroma rumput ilalang basah dari lahan kosong.

 

“Maulid itu bukan hanya tentang kelahiran,” lanjut Ustadz Taufik. “Tapi tentang komitmen panjang untuk menghadirkan cahaya di tengah gelapnya zaman.”

 

Ia memandangi satu per satu wajah-wajah yang hadir. “Karena menjadi da’i, pembina, murobi… itu bukan pilihan pekerjaan, ingat semboyan kita ‘nahnu du’at qobla kulli shai’in’. Tapi janji setia kepada Allah. Sekali kita jawab ‘labbaik’, maka pertanyaannya bukan lagi ‘mau lanjut atau tidak’, tapi ‘bagaimana tetap bertahan dengan cinta yang menyala.’”

 

Mas Yusron menghela napas, lalu bicara, “Dan di zaman ini, yang sering padam itu bukan bekal ada kendaraan untuk kita jalan, ada masjid atau rumah yang siap jadi tempat, dan bahkan ada mad’u yang siap.., tapi cinta. Ya cinta kita yang terkadang redup, Maka kita harus menyalakan cinta itu lagi.”

 

“Betul,” ujar Ustadz Taufik. “Dan jangan lupa, cinta yang tinggi selalu membawa risiko yang besar. High profit, high risk, kata orang bijak. Dalam istilah fiqh: al-ghunmu bil ghurmi – keuntungan itu datang sebanding dengan kesanggupan menanggung risiko. Masih ingat kan yang ini? ”

 

Pak Rifai menatap langit diatas sana yang tampak kerlip bintang, matanya agak basah. “Saya jadi merasa, Allah hadirkan kita malam ini bukan untuk menyesal atas kekurangan kemarin. Tapi untuk meneguhkan kembali cinta kepada jalan ini. Jalan pewaris kenabian. Jalan cinta.”

 

Pak Wawan menutup dengan satu kalimat tenang namun dalam, “Dan setiap jejak langkah kita ke halaqah ini, semoga kelak menjadi saksi bahwa kita pernah berjalan di jalan yang Nabi cintai. Dan semoga kita akan berada di jalan ini sampai ajal kita menjemput”

 

Angin malam makin lembut. Beberapa guru mulai membetulkan posisi duduk. Ada yang menyeduh jahe kembali. Tapi di dalam dada mereka, terasa ada yang baru saja dikuatkan. Bukan hafalan. Tapi kesadaran. Bahwa cinta kepada Nabi, harus dibuktikan dengan setia di jalan yang beliau tempuh: membina, membangun, dan menyambung cahaya.

 

 

📌 Catatan Serambi:

 

“Maulid bukan hanya tentang kelahiran Nabi, tapi tentang kelahiran kembali cinta kita kepada jalan beliau. Jalan yang bisa jadi sunyi dan melelahkan, namun dirindukan para malaikat.”

 

🕊 #SerambiTarbiyah | #NgopiMaulid | #MurobbiSetia

Tinggalkan Balasan