☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 4
Langit sore tampak teduh. Burung-burung merpati peliharaan boarding asyik mematuk jagung pemberian santriwati di halaman sekolah. Di salah satu Gazebo yang cukup nyaman meski lantai kayunya mulai melengkung, halaqoh dadakan ba’da ashar para ustadz, berubah dari diskusi formal menjadi lebih santai tapi justru semakin mendalam.
Ustadz Taufik masih duduk bersandar di salah satu dinding gazebo. Pak Wawan di dinding yang lain, lututnya bersila, sambil menyimak. Mas Ilham menunduk, wajahnya menyiratkan kelelahan sekaligus kelegaan. Mas Yusron, walau tak banyak bicara, tetap menatap penuh perhatian.
“Akhi,” kata Ustadz Taufik memecah hening, “janji kepada Allah… jika dijaga, akan mengangkat. Tapi jika dikhianati, bukan hanya kehilangan arah, tapi bisa kehilangan rasa.”

Pak Wawan mengangkat alis, “Kehilangan rasa, Ustadz?”
“Ya. Rasa iman. Rasa nikmatnya ketaatan. Bahkan bisa sampai pada titik yang berat: kerasnya hati. Sebagaimana Allah firmankan: ‘Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Coba nanti antum telaah kembali Al Maidah :13 ini’”
Ilham menyandarkan punggung jejeran dengan pak Wawan. “Itu ayat yang berat… tapi terasa nyata. Kadang ketika kita jauh dari pembinaan, jauh dari komitmen awal kita, yang pertama hilang itu memang rasa. Hati jadi datar.”
Ustadz Taufik mengangguk, “Karena janji itu bukan sekadar formalitas ikhwah. Ia adalah pertanggungjawaban ruh. Dan bila seseorang pernah diberi karunia ilmu, pembinaan, bahkan kesempatan membina orang lain, maka ketika ia ingkar… efeknya tidak hanya pada dirinya, tapi pada sistem dakwah itu sendiri.”
Ustadz Taufik melanjutkan pelan, “Kalau yang mundur itu adalah seseorang yang biasa menyampaikan—maka orang-orang yang dibinanya akan kehilangan arah. Kalau yang berhenti itu adalah figur pembina—maka ia bukan hanya mundur, tapi menarik satu atau dua orang ikut menjauh dari barisan.”
Pak Wawan menyisipkan, “Makanya Allah menyebut akibatnya bisa sampai pada munafik, ya?”
“Betul. Tapi bukan kita yang menilai itu. Yang kita khawatirkan adalah, ketika seseorang tidak lagi merasa bersalah meninggalkan janji, lalu perlahan… ia mulai merasa biasa saja dengan keabainya itu. Di situlah bahaya itu mengendap.”
Ilham menyimak serius. “Lalu apa yang membuat hukum atas pelanggaran janji ini begitu berat, Ustadz? Kadang terasa seperti… kok kelihatan kejam banget?”
Ustadz Taufik tersenyum. “Justru karena janji ini begitu tinggi nilainya. Allah tidak sembarangan memilih orang untuk diberi amanah dakwah. Orang-orang yang siap memikul janji ini adalah orang yang telah melalui proses panjang: tarbiyah, ujian hidup, ujian amanah. Maka ketika mereka menyanggupi, posisi mereka menjadi istimewa. Dan setiap posisi istimewa… selalu datang dengan konsekuensi besar.”
Ia diam sejenak, lalu mengutip, “High profit… high risk. Dalam fikih bahkan ada kaidah, al-ghunmu bil-ghurmi—keuntungan sepadan dengan resiko. Maka jika seseorang diberi kehormatan menjadi rahilah, menjadi penarik beban, lalu ia mundur tanpa sebab syar’i… maka sangat wajar jika Allah mengambil kembali karunia yang dulu Dia titipkan. Iya yang dulu Dia titipkan”
Mas Yusron bergeser dan membenarkan duduknya. “Saya jadi teringat, beberapa ustadz yang saya kagumi dulunya… tapi sekarang hilang jejak. Dan sedihnya, orang-orang yang dulu semangat karena mereka… ikut melemah.”
Pak Wawan menambahkan dengan nada cukup pelan sambil meresapi kata-katanya sendiri, “Makanya menjaga janji itu bukan soal ego, tapi soal keberlangsungan perjuangan. Karena bila kita mundur, yang goyah bukan cuma diri sendiri.”
“Dan…” Ustadz Taufik melanjutkan, “…menepati janji juga bukan soal idealisme semata. Tapi bentuk syukur atas nikmat amanah. Allah berfirman, ‘Jika kamu bersyukur, pasti Kami tambahkan. Tapi jika kamu ingkar, azab-Ku sangat pedih.’”
Ilham melihat ke burung merpati yang beterbangan karena bermain dengan santri. Matahari samakin turun di sebelah barat, sinar oranye sore mulai mewarnai langit.
“Saya jadi takut, Ustadz… Sekaligus juga bersyukur. Karena belum sepenuhnya terlambat. Saya masih di sini. Masih bisa duduk dalam halaqah. Masih bisa bertanya dan mendengar.”
“Dan itu,” jawab Ustadz Taufik sambil tersenyum, “adalah bagian dari kesetiaan. Kesetiaan bukan berarti tidak pernah goyah. Tapi selalu kembali. Selalu ingin kembali. Dan Allah Maha Menyambut hamba yang ingin memperbaiki.”
Pak Wawan berdiri, mengambil tasnya. “Kita jaga hati. Jaga lisan. Jaga peran. Karena sekali kita berkata ‘Saya siap’, maka langit telah mencatat, dan bumi telah menjadi saksi.”
Mas Ilham mengangguk. “Semoga Allah terus pelihara kita dalam barisan.”
Dan mereka pun bersiap menuju rumah masing-masing. Sore itu tak ada pekikan motivasi. Tapi dalam hati mereka, ada gema bisu yang terpantul lembut namun kuat: ‘Janji telah terucap. Dan semoga ia tetap hidup sampai akhir hayat’.
—
📌 Catatan Serambi “Semakin tinggi nikmat, semakin besar amanahnya. Maka jangan sepelekan janji yang pernah dibuat kepada Allah. Karena al-ghunmu bil-ghurmi—setiap kehormatan membawa resiko. Dan dakwah… adalah kehormatan yang tak layak dibatalkan.”
🕊 #SerambiTarbiyah | Penutup Seri: Menepati Janji Setia kepada Allah ( dari makna buku gumregah tarbiyah)
