Lebih Buruk

Jangan Sampai Kita Jadi Lebih Buruk dari Mereka yang Menolak

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 24 (Part 2)

Usai mabit PTK pagi itu, suasana masjid sekolahan masih ramai, PTK mulai meninggalkan lokasi, Sebagiannya masih asyik bercerita dg yang lain, sementara di pojok masjid, beberapa murobbi masih duduk melingkar, ada percakapan hangat. Aroma kopi yang sengaja mereka seduh dari dispenser harum melewati hidung. Jangan sampai kita jadi Lebih Buruk dari mereka yang menolak.

Mas Ilham bersandar di dinding masjid matanya menerawang pembicaraan beberapa hari lalu di ruang guru. “Ustadz… kalau dipikir-pikir, kita ini masih sering menilai siapa yang pantas kita dampingi dan siapa yang tidak, ya? Kadang, kalau ada calon mutarabbi yang kita rasa ‘tidak potensial’, kita jadi malas menyapa, apalagi mengajak.”

Pak Rifa’i mengangguk pelan. “Iya, saya juga pernah begitu, tanpa tersadar. Kadang merasa, ‘Ah…, orang itu tidak akan berubah.’ Padahal kita tidak pernah tahu jalan Allah untuk membalikan hati seseorang.”

Tanda-tanda Kita Menjadi Lebih Buruk

Ustadz Taufik yang sedari tadi menatap para PTK yang meninggalkan masjid, merapatkan duduknya. Ia membuka mushaf kecil yang selalu dibawanya. “Ikhwah fillah… coba ingat surat ‘Abasa.” Suaranya pelan, tapi penuh tekanan. Ia membaca, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena datang seorang buta kepadanya. Tahukah engkau? Barangkali ia ingin membersihkan diri, atau ia ingin mendapat pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–4)

 Hening. Namun, dalam keheningan itu terdapat kekuatan yang luar biasa. Kita tidak boleh terjebak dalam sikap yang merendahkan mereka yang menolak kita. Mulia adalah ketika kita tetap menjaga integritas dan martabat, meski dihadapkan pada penolakan. Semoga ini membantu: Terima kasih. Hening…

“Bayangkan,” lanjut Ustadz Taufik, “Rasulullah ﷺ yang maksum pun ditegur Allah hanya karena wajahnya berubah sejenak kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Bukan karena menolak dakwah, bukan karena tidak peduli. Hanya karena sedikit ekspresi tidak menyambut dengan sempurna. Padahal Abdullah tidak melihat karena beliau buta, yang tentu tidak melihat ekpresi kanjeng Nabi tersebut. Maka, bagaimana dengan kita… yang kadang tidak hanya memalingkan wajah, tapi bahkan tidak mau repot mengajak? Bahkan mungkin diam-diam kita sudah menulis ‘tidak ada harapan’ di hati kita untuk sebagian orang.”

Mas Yusron menunduk, menggenggam tangannya sendiri. “Astaghfirullah… berarti bisa jadi kita lebih buruk daripada yang menolak, ya Ustadz?”

Na’am, akhii,” jawab Ustadz Taufik mantap. “Lebih buruk lagi jika kita berhenti mengajak. Semakin buruk jika kita bosan membina. Dan akan lebih buruk lagi jika semangat tarbiyah kita hanya untuk mereka yang ‘mudah diatur’, ‘potensial’, atau ‘nyaman bagi kita’. Karena tarbiyah bukan proyek memilih-milih. Ini proyek cinta yang harus merangkul semua, meski tidak semuanya langsung berubah.”

Pak Wawan menarik napas panjang. “Saya jadi ingat dulu saat awal-awal ikut tarbiyah. Pembina saya rela naik bus antar kota cuma untuk mengisi halaqah kami berempat. Ada satu peserta yang dikenal nakal, tapi tetap dijemput, tetap didatangi, tetap dikirim pesan. Akhirnya justru dia yang jadi ustadz. Kalau dulu pembina saya memilih abaikan, mungkin akan lain ceritanya ”

Ustadz Taufik tersenyum lirih. “Itulah. Tugas kita bukan menilai hasil, tapi menanam harapan. Jika Rasulullah ﷺ yang maksum saja ditegur karena ekspresi wajah, maka jangan sampai hati kita menjadi lebih keras. Jangan sampai keletihan membuat kita berhenti mengajak. Jangan sampai kebosanan mengikis doa-doa kita untuk mutarabbi kita.”

Mas Ilham mengangkat kepalanya. “Mungkin inilah ujian sebenarnya bagi para murobbi ya, Ustadz? Bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menjaga hati agar tetap lembut.”

“Betul, akhii,” ujar Ustadz Taufik tegas. “Karena saat hati kita mulai dingin, saat kita mulai bosan dengan mad’u, maka kita sedang berjalan ke arah yang lebih berbahaya daripada sekadar menolak. Kita bisa menjadi murobbi yang kehilangan cinta. Dan itu lebih mematikan daripada seribu penolakan.” tambah ust Taufik puitis.

Pak Rifa’i menatap keluar masjid. Nampak anak-anak pondok berlarian di halaman dengan tawa polos. “Melihat anak-anak ini, saya sadar, mereka semua titipan Allah. Setiap jiwa yang datang, bahkan yang terlihat biasa-biasa saja, adalah amanah. Jangan sampai kita remehkan satu pun. Karena bisa jadi, yang kita remehkan itu justru yang Allah muliakan kelak.”

Ustadz Taufik menutup mushafnya, dan bersiap pulang berkata “Ikhwah fillah… ayo kita perbarui niat. Jangan bosan menyapa, jangan lelah mendampingi, jangan memilih-milih mad’u. Karena jika kita lelah, ingatlah, Rasulullah ﷺ menempuh jalan ini dengan cinta yang tak pernah padam, bahkan untuk mereka yang menolak beliau. Maka jangan sampai kita kehilangan cinta itu.”

📜 Catatan Serambi:
Seorang murobbi yang lelah adalah manusiawi. Tapi seorang murobbi yang kehilangan semangat mencintai, bisa lebih berbahaya dari seribu mad’u yang menolak. Surat ‘Abasa adalah teguran lembut bagi kita semua. Jangan remehkan siapa pun. Jangan berhenti mengajak. Jangan pernah memilih-milih siapa yang layak dibina. Karena setiap jiwa adalah ladang dakwah, dan mungkin kelak, buah dari ladang yang kita anggap kering justru jadi penyejuk hati kita.

#MurobbiTanpaPilihan
#AbasaTeguranUntukParaDai
#CintaYangMenggerakkan
#NgopiDiSerambiTarbiyah

This Post Has 0 Comments

Tinggalkan Balasan