☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 4
Angin siang itu berembus perlahan dari jendela ruang guru yang terbuka sebagian. Langit tampak cerah, tapi hawa Dzulhijjah yang hangat membuat suasana sedikit malas. Di dalam, suasana tidak begitu ramai. Beberapa guru ikhwan masih duduk di tempat masing-masing, sebagian mulai merapikan dokumen menjelang Dhuhur.
Mas Yusron kembali duduk setelah menyerahkan map berkas. Di sudut meja, Pak Wawan menggenggam gelas air hangat, sementara Ustadz Taufik duduk bersandar ringan di sofa sambil memutar penutup pulpen.
Obrolan mereka kemarin belum sepenuhnya usai. Ilham yang hari itu juga ke SMP untuk urusan yang sama, tampak lebih tenang, tapi matanya masih menyiratkan sesuatu yang tertahan.

“Ustadz,” Ilham membuka suara, “kalau kita sudah pernah siap jadi pembina, lalu di tengah jalan merasa lelah… apakah itu berarti kita mengingkari janji?”
Ustadz Taufik diam sejenak sebelum menjawab. Ia tidak buru-buru. Suaranya lembut namun jelas.
“Akhi, setiap orang bisa merasa lelah. Bahkan orang-orang shalih pun diuji dengan keraguan. Yang perlu kita pahami bersama adalah… bahwa saat kita menyanggupi amanah, terutama dalam dakwah dan tarbiyah, kita sebenarnya telah mengikat janji kepada Allah. Dan Allah menyebut janji itu sebagai mitsaqan ghalizha—janji yang kuat.”
Pak Wawan mengangguk perlahan, “Tapi tentu janji itu nggak berarti kita nggak boleh goyah, kan?”
“Betul, Pak. Justru goyah itu manusiawi. Tapi yang perlu dijaga adalah jangan sampai kegoyahan itu membuat kita mundur dari medan yang Allah percayakan. Karena ada dampak yang harus kita waspadai. Bukan karena Allah cepat menghukum, tapi karena kebaikan itu… bila ditinggalkan begitu saja, bisa melukai hati kita sendiri.”
Mas Yusron menyimak dalam-dalam. “Apa maksudnya, Ustadz?”
Ustadz Taufik melanjutkan pelan, “Ada yang dulu lembut, setelah menjauh dari pembinaan, jadi lebih cepat marah. Ada yang dulunya suka mendampingi, sekarang lebih memilih menyendiri. Ada yang tadinya semangat mengajak, sekarang malah sinis terhadap ajakan. Kita tidak menyalahkan siapa pun. Tapi ini fakta yang kita temui sendiri.”
Ilham menunduk. “Saya sempat merasa begitu, Ustadz. Waktu pernah vakum sebentar. Rasanya hati seperti kosong. Dan makin lama ditunda kembali, malah makin berat untuk mulai lagi.”
“Itu wajar, akhi,” jawab Ustadz Taufik. “Karena janji yang tidak dijaga, perlahan mengikis sensitifitas jiwa. Sampai kadang kita tidak sadar bahwa arah hidup kita mulai berbalik pelan-pelan. Bukan karena ingin durhaka, tapi karena abai menjaga komitmen yang dulu pernah disanggupi.”
Pak Wawan menambahkan, “Saya pernah merasa ditinggalkan oleh beberapa teman lama. Bukan karena mereka sengaja… tapi karena mereka tidak lagi merasa kuat. Sayangnya, tidak ada yang mengingatkan dengan hangat. Akhirnya mereka hilang, pelan tapi pasti.”
“Dan itu yang ingin kita hindari,” kata Ustadz Taufik. “Kita tidak menghakimi siapa pun. Kita hanya mengingatkan diri sendiri, bahwa meninggalkan jejak baik itu berat… tapi menjaga janji yang sudah dibuat jauh lebih berat—dan lebih mulia.”
Semua diam. Ruangan hanya diisi suara kipas dan sesekali pintu lemari terbuka.
Ilham bersuara lirih, “Jadi apa yang harus saya lakukan kalau saya sudah mulai goyah?”
“Berhenti sejenak untuk menata niat bukan masalah,” jawab Ustadz Taufik. “Yang penting jangan lepaskan semua. Tetap berada di lingkaran, walau hanya sebagai pendengar. Karena selama kita bertahan, Allah masih menjaga hati kita agar tetap tersambung.”
Mas Yusron tersenyum, “Berarti bertahan saja itu sudah bentuk kesetiaan ya, Ustadz?”
“Bertahan, walau kecil. Melangkah, walau pelan. Itu lebih baik daripada hilang tanpa jejak. Kita ini bukan orang besar, tapi kita pernah berkata ‘saya siap’, dan kata-kata itu di dengar oleh langit.”
Pak Wawan menutup pembicaraan dengan kalimat pelan, “Maka marilah saling jaga. Karena terkadang yang kita butuhkan bukan motivasi besar… tapi teman yang tidak membiarkan kita pergi diam-diam.”
—
📌 Catatan Serambi
“Ada orang yang pergi dari dakwah bukan karena benci, tapi karena lupa bahwa ia pernah berjanji. Maka teman sejati adalah yang mengingatkan… dengan kasih sayang.”
🕊 #SerambiTarbiyah | to be continued to part 3…
