You are currently viewing Kemauan dan Kemampuan : Apa yang Membuat Kita Terus Membina?
Photo by Freepik

Kemauan dan Kemampuan : Apa yang Membuat Kita Terus Membina?

☕Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 14

Angin malam masih terasa dingin sisa hujan sore tadi. Beberapa gelas kopi dan jahe mulai menipis, dan suara gemirik jangkrik dari wadah pakan burung tetangga Ustadz Taufik yang tadinya plondo berhemimetabola jadi jangkrik, kembali mendominasi jeda percakapan. Daurah Murabbi akhir pekan lalu cukup padat, mengulas seputar tarbiyah dan mengelola kelompok halaqah.

Setelah isya malam itu, saat para murabbi kembali duduk melingkar di teras rumah Ustadz Taufik, suasana berubah menjadi lebih reflektif.

Kemauan dan Kemampuan Membina
Photo by Freepik

 

Antum semua lihat ya,” kata Ustadz Taufik sambil memutar-mutar tutup botol air minumnya, “pelatihan akhir pekan lalu bagus, ada yang perlu kita garis bawahi, yang lebih penting dari skill… yaitu will.”

Pak Rifai mengangguk, “Benar sekali, ustadz.” Ustadz Taufik melanjutkan, “dalam buku ini” sambil membuka bab dalam buku Gumregah Tarbiyah. “Muhammad Ali bilang: The will must be stronger than the skill.”

Mas Yusron menimpali, “Saya kadang mikir, ustadz… kenapa ada yang ikut tarbiyah bertahun-tahun, bahkan ikut semua daurah, tapi tetap enggan membina? ini auto kritik juga untuk saya tadz, kadang terlintas juga malas itu”

Ustadz Taufik tersenyum. “Karena belum tumbuh kemauan itu, akhii… belum muncul rasa percaya diri, belum tumbuh cinta untuk menjadi murabbi. Bisa jadi mereka belum punya alasan kuat kenapa harus membina, kalaupun ada, belum kuat.”

“Padahal forum sudah tersedia, binaan juga banyak yang menunggu,” ujar Ilham lirih, “tapi kalau nggak punya ‘ghirah’ ya tetap tak bergerak…”

Ustadz Taufik menatap satu-satu, lalu berkata pelan , “Ketika seorang murabbi menemukan alasan kenapa ia harus membina, maka ia tak bisa dihentikan. Ia akan menjadi arus dan badai yang tak terbendung.”

Baca juga : The Hidden Creator: Sang Murabbi

Diskusi semakin mengalir. Para murabbi seperti menemukan benang merah dari banyak fenomena. Bahwa problem utama di kalangan para aktivis bukan semata tidak bisa—tapi tidak mau. Tidak cukup willingness. Seperti disebutkan dalam buku yang tadi dikutip

“Berapa pun banyak program Daurah Murabbi, tidak berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah murabbi baru, karena persoalannya bukan pada kemampuan, namun pada kemauan…” (Gumregah Tarbiyah, hlm. 72)

Pak Rifai lalu mengajak kami menyusun ulang fokus pembinaan.
“Kalau selama ini kita terus perkuat pelatihan teknis, itu bagus. Tapi jangan lupakan bahwa murabbi itu tumbuh dari ruh. Maka forum-forum ruhiyah harus kita perbanyak.”

“Dan kisah-kisah perjuangan para murabbi dulu harus terus dibacakan,” ujar Mas Yusron. “itu yang membakar saya waktu SMA. Kisah murabbi kami yang naik bis dua jam tiap pekan cuma untuk mendatangi halaqah kami. Tanpa imbalan, tanpa fasilitas.” tambah ustadz Taufik.

Semua terdiam sejenak. Satu-satu mulai menyadari: bukan modul atau panduan teknis yang membuat bertahan membina selama ini. Tapi karena pernah disentuh oleh kesungguhan orang lain.

Ustadz Taufik menutup dengan kalimat sederhana, “Kemauan itu ruhnya dakwah. Kalo ruhnya nggak hidup, semua sistem akan kosong. Maka tugas kita bukan hanya ngajari ‘cara membina’, tapi menyalakan semangat kenapa harus membina.”

📜 Catatan Serambi:
Skill bisa diajarkan. Tapi kemauan harus ditumbuhkan. Karena hanya dengan kemauan, seseorang akan bertahan meski tanpa panggung, tanpa fasilitas, dan tanpa pujian.

Tinggalkan Balasan