Khutbah Jumat Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Khutbah Jum’at : Kebenaran dan Kebijaksanaan dalam Menjalani Hidup

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ

إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan ini, saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk terus bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa akan menjadi pelita dalam memilih jalan hidup, termasuk dalam membedakan mana yang benar, dan bagaimana menyampaikannya dengan bijak.

Kebenaran Harus Dibingkai dengan Kebijaksanaan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada hari yang mulia ini, khatib mengajak kita merenung tentang fenomena yang kian nyata di tengah masyarakat. Saat ini, kita menyaksikan semakin banyak orang, bahkan para tokoh yang kita hormati, yang teguh memegang kebenaran menurut keyakinannya. Tentu saja, hal ini patut dihargai, karena memperjuangkan kebenaran adalah bagian dari nilai luhur agama kita.

Namun, ketika kebenaran yang parsial misalnya dalam hal fikih atau perbedaan pandangan madzhab dianggap sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, maka celah untuk dialog dan toleransi sering kali tertutup. Akibatnya, muncul konflik, gesekan, bahkan perpecahan di antara umat. Lebih dari itu, masing-masing pihak merasa paling benar dan menolak mendengarkan sudut pandang lain.

Padahal, Islam mengajarkan kita tidak hanya menjadi orang yang menegakan kebenaraan, tetapi juga menjadi orang yang bijak. Sebab, setiap kebenaran akan diuji oleh ruang dan waktu, dan oleh karena itu, penerapannya membutuhkan pemahaman, kehalusan akhlak, serta memperhatikan kemaslahatan.

Ilmu Didapat dari Ajaran, Hikmah dari Keteladanan

Jamaah yang dirahmati Allah,
Selanjutnya, kita perlu menyadari bahwa kebenaran yang tidak disertai kebijaksanaan dapat kehilangan maknanya. Dalam hal ini, kita bisa mengambil pelajaran dari ucapan indah seorang ulama besar, Yahya bin Mu‘adz ar-Razi rahimahullah. Beliau berkata:

 يُعْطَى الْعِلْمُ بِالتَّعْلِيمِ، وَتُعْطَى الْحِكْمَةُ بِحِفْظِ حُرُمَاتِ الصَّالِحِيْنَ
“Ilmu didapat dengan pengajaran, dan kebijaksanaan didapat dengan menjaga kehormatan orang-orang saleh.”

Kalimat ini menyiratkan bahwa sumber ilmu bisa dari guru, buku, dan belajar formal. Tapi hikmah yakni kebijaksanaan tidak bisa semata-mata kita peroleh dari teori. Ia lahir dari keteladanan, dari kesalehan, dan dari bagaimana ilmu itu membawa kemasalahatan bagi masyarakat.

Inilah sebabnya kita kadang menjumpai orang ilmunya tinggi tapi perilakunya kotor atau sebaliknya, ada yang mungkin ilmunya sederhana, namun tutur katanya menyejukkan, sikapnya teduh, dan hadirnya membawa maslahat. Itulah buah dari kebijaksanaan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menegaskan bahwa menyampaikan kebenaran pun harus disertai kebijaksanaan dan kelembutan. Kebenaran tanpa kebijaksanaan hanya akan melukai. Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa kebenaran pun tak akan sampai pada tujuan.

Siapa Teladan Kebijaksanaan Itu?

Kemudian, muncul pertanyaan penting bagaimanana dan siapakah orang saleh yang bisa menjadi teladan agar kita meraih kebijaksanaan? Sebagai jawabannya, Al-Qur’an dan para ulama telah memberikan ciri-cirinya. Salah satunya adalah penjelasan dari Hujjatul Haqq Abu ‘Ali Ibn Sina rahimahullah. Ia menggambarkan pribadi yang penuh kebijaksanaan sebagai berikut:

 “Ia selalu gembira dan tersenyum… Ia menghormati anak kecil dengan rendah hati, sebagaimana ia menghormati orang tua… Ia tidak mengintip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak marah, meski melihat kemungkaran sekalipun. Hal ini karena jiwanya telah diliputi cinta dan kasih sayang… Ia selalu memaafkan. Bagaimana ia tidak pemaaf, jika jiwanya sedemikian lapang untuk menampung segala kesalahan orang lain?”

Ia memaafkan, karena hatinya sudah lapang untuk menampung kesalahan orang lain tanpa menghakimi. Inilah buah dari kebijaksanaan sejati hati yang tenang, sikap yang damai, dan akhlak yang menyejukkan.

Baca Juga : Khutbah Jumat: Indahnya Hidup dalam Naungan Rasa Syukur

Allah SWT telah menggambarkan pribadi seperti ini dalam firman-Nya:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Mereka ini bukan hanya memperjuangkan kebenaran, tapi juga memastikan bahwa kebenaran itu sampai dengan cara yang menebar maslahat.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Kebenaran tanpa kebijaksanaan bisa menjadi bumerang bagi kita. Namun jika berbungkus kelembutan, kasih sayang, dan adab, maka ia akan menjadi cahaya yang membimbing umat, bukan yang membakar perbedaan.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua :

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا

.أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى -عِبَادَ اللَّهِ- حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوا مِنَ الْإِسْلَامِ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى. وَاعْلَمُوا أَنَّ أَجْسَادَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى
.ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
.اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ
.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.أَقِمِ الصَّلَاةَ

 

Tinggalkan Balasan