Mutabaah Binaan

Mutabaah Binaan, Sesi Pelengkap?

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 26 (Part 1)

Baramij halaqoh pekan ini sama seperti pekan pekan sebelumnya, setelah sesi tatsqif dan pengumuman-pengumuman dari pak Wawan, selanjutnya Pak Rifa`i yang malam itu sebagai MC mempersilahkan hadirin untuk menyatap hidangan yang telah tersedia, masih dengan menu menu sehat pisang godog, ketela, dan minuma serai hangat, Pak Rifai`i selanjutnya mengantarkan sesi mutabaah binaan.

Sesi Mutabaah

Pak Rifa’i menghantarkan dengan suara selembut mungkin, karena yang akan disampaikan tegas, khawatir yang lain tidak berkenan, “Ikhwah, sesi mutabaah ini bukan sekadar untuk laporan kehadiran binaan. Ini waktu untuk memastikan setiap tarbiyah yang kita jalankan hidup dan menumbuhkan. Kalau ada yang melemah, kita rawat bersama. Kalau ada yang tertinggal, kita jemput dengan doa dan langkah nyata.”

Mas Yusron membuka catatannya. “Ada beberapa mutarabbi yang tiga pekan terakhir absen. Kita perlu bahas bagaimana menjangkau mereka. Bukan untuk menegur saja, tapi memastikan hati mereka tetap terikat dengan tarbiyah ini.”

Pak Wawan mengangguk pelan. “Inilah indahnya tarbiyah, kita tidak membiarkan satu pun jiwa lepas. Rasulullah ﷺ bahkan ditegur Allah hanya karena sekilas wajah beliau berubah kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Itu pelajaran besar bagi kita, bahwa perhatian kepada setiap jiwa adalah amanah. Jangan sampai ada seorang pun merasa tak dianggap.”

Ilham, yang baru setahun memimpin halaqah, menarik napas panjang. “Kadang saya ragu menegur, takut mereka tersinggung atau malah menjauh.”

Mutabaah sebagai Bentuk Kasih Sayang

Ustadz Taufik tersenyum, menatap Ilham dengan penuh kasih. “Akhii, teguran yang dilahirkan dari cinta justru akan menenangkan hati. Kita harus ingat kita menegur bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak kembali. Kita harus belajar dari Rasulullah ﷺ, yang setiap ucapannya adalah rahmat. Kita pun harus menjadikan teguran sebagai bukti sayang, bukan sekadar koreksi atau lebih buruk menyalahkan.”

Pak Rifa’i menambahkan, “Setiap laporan mutabaah mestinya tidak cukup sekadar angka kehadiran. tapi lebih refleksi kita, bahwa itu cermin sejauh mana kita hadir dalam kehidupan mutarabbi kita. Kalau ada yang mulai renggang, mungkin kita perlu lebih banyak menyapa, lebih rajin mendoakan, atau lebih sering hadir di hidup mereka.”

Mas Yusron mengangguk, “Benar, Pak. Kita juga perlu sistem pencatatan yang lebih detail, bukan untuk mengawasi, tapi untuk memastikan tidak ada yang luput dari perhatian. Halaqah harus jadi tempat mereka merasa dicintai, diperhatikan bukan sekadar forum rutin.”

Pak Wawan perata paling senior diantara mereka menatap semua dengan mata teduh. “Ikhwah, kita ini sedang mempersiapkan generasi rahilah, bukan pengunjung forum. Kelembutan kita harus diimbangi ketegasan. Jangan biarkan satu pun jiwa merasa sendirian. Tugas kita adalah menjangkau, mengangkat, dan menemani. Meskipun bisa jadi kita lelah, kita harus ingat, ini tugas yang Allah muliakan.”

Ustadz Taufik menutup sesi itu dengan suara mantap. “Malam ini kita bukan hanya evaluasi, tapi memperbarui niat. tajdidun niyyah kita semua, Kita akan teruskan langkah Rasulullah ﷺ dalam membina satu per satu umatnya. Setiap nama yang kita sebut malam ini adalah amanah. Kita tidak boleh cukup puas hanya karena halaqah berjalan. Kita harus memastikan setiap hati tertaut, setiap jiwa merasa dihargai. Itulah diantar yang harus kita hadirkan dalam tarbiyah.”

Ust Taufik melanjutkan, “Sobat pejuang … bisa jadi kita belum bisa membuat halaqoh kita sebagai halaqoh yang dirindukan, maka kita perlu senantiasa belajar dan memperbaikinya… sehingga halaqoh kita menjadi dirindukan oleh mutarobi kita, kita bisa perbaiki niatan, dan menumbuhkan rasa cinta dan peduli kepada mereka”.

“Ustadz.. pekan besok kita lomba menulis surat cinta kepada para mutarobi kita ya” Ilham mendapat inside lain dari percakapan malam itu, untuk mengakumulasi apresiasi ke mutarobi..

📜 Catatan Serambi:
Mutabaah binaan adalah forum untuk merawat amanah. Di sinilah para murobbi menata niat, mengasah kepekaan, dan meneguhkan langkah. Teguran, perhatian, dan doa menjadi senjata utama. Tarbiyah bukan sekadar hadir pekanan, tapi menautkan hati dengan cinta dan arah perjuangan.

#MutabaahDenganCinta
#KetegasanYangMenyembuhkan
#NgopiDiSerambiTarbiyah
#MurobbiAdalahPenjagaAmanah

Tinggalkan Balasan