Photo by Freepik
Photo by Freepik

Jiwa-Jiwa yang Pergi, Muru’ah yang Harus Dilanjutkan

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 8 bagian 1

 

Malam itu, rumah Ustadz Taufik kembali menjadi tempat halaqah. Sederhana dan tak luas, tapi hangat dan penuh makna. Rak buku di ruang tamu menjadi saksi percakapan para pembelajar yang mulai meresapi usia dan perjalanan. Di rak itu, berderet buku pergerakan, buku fiqh buku sejarah islam, sirah nabi, juga ada sejarah jawa termasuk babad tanah Jawa.

Mas Yusron datang agak terlambat, namun langsung duduk tenang. Ilham sudah ada sejak tadi, mengatur posisi duduk di dekat pintu. Pak Rifa’i duduk bersila dengan buku catatannya yang biasa. Pak Wawan duduk bersandar di rak buku.

Photo by Freepik
Photo by Freepik

Ikhwatii fillah,” buka Ustadz Taufik , “sudah banyak jiwa-jiwa hebat yang pergi. Pergi karena usia telah habis, karena tugas telah selesai. Tapi apakah semangat membina itu ikut pergi bersama mereka?”

Semua diam. Bahkan denting adukan sendok pak Wawan di cangkir pun terasa nyaring.

“Ustadz Hilmi Aminuddin. Ustadz Rahmat Abdullah. Ustadz Mutammimul Ula. Ustadz Zuber Syafawi. Ustadz Cholidi Mahmud. Mereka bukan hanya tokoh dakwah. Mereka adalah pembina, penggugah jiwa. Dan mereka sudah tiada.” lanjut ustadz Taufik.

Baca juga : Menjaga Muru’ah di Tengah Derasnya Dunia

Pak Wawan mengangguk perlahan. “Dulu, saya pertama kali ikut halaqah karena tauhid mereka membakar hati saya.”

Ustadz Taufik membenarkan duduknya. “Dalam buku ini,” katanya sambil membuka buku Gumregah Tarbiyah, “ditulis tentang nufus dzahibatun — jiwa-jiwa yang pergi. Tapi dakwah ini tak boleh pergi. Harus ada yang melanjutkan.”

Mas Ilham membuka catatannya, lalu bertanya pelan, “Ustadz, bagaimana jika kami tak sekuat beliau beliau?”

“Tak perlu menyaingi, akhii,” jawab Ustadz Taufik. “Cukup meneruskan. Menjaga muru’ah, perilaku mulia, tingkah laku bermanfaat sehingga tetap dalam kebenaran dan kemuliaan. Menjaga agar tarbiyah ini tidak kosong. Jangan sampai hanya tinggal lembaran-lembaran cerita. Tapi tak ada pembinaan. Tak ada ruh.”

Pak Rifa’i menghela napas. “Fenomena nufus dzahibatun ini seperti kekhawatiran Nabi Ya’qub, ya ustadz?”

“Betul Pak Rifa’i,” jawab Ustadz Taufik. “Mā ta’budūna min ba’dī? – Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Nabi Ya’qub bertanya, karena khawatir bukan soal aqidah saja, tapi juga kelangsungan misi. Generasi pelanjut harus ada. Harus kuat.”

Mas Yusron menyimak sambil menggenggam cangkir teh panasnya. “Berarti bukan sekadar hadir di halaqah, tapi memastikan halaqah ini tetap hidup?”

“Iya. Tetap hidup. Tetap menghidupkan. Tetap hadir, konsisten. Bagi para murobbi, dialah mestinya yang paling semangat, pun dengan konsisten tilawah di malam-malam sunyi. Dengan zikir yang telah menjadi akhlaq. Dengan ruh yang terus disambung,” jawab Ustadz Taufik.

Pak Wawan berbisik pelan, “Kalau yang kita wariskan hanya struktur tanpa semangat… maka cepat atau lambat, semuanya runtuh.”

Semua terdiam.

“Karena itu,” tutup Ustadz Taufik, “siapa pun kita hari ini—yang masih hidup, yang masih punya tenaga—harus memilih: menjadi penerus ruh dakwah… atau membiarkan estafet ini terlepas begitu saja. Dan bagi kita tentunya tidak ada pilihan lain kecuali menjadi penerus”

📌 Catatan Serambi:
“Jangan biarkan generasi pembina pergi tanpa digantikan. Warisan terbesar bukan organisasi, tapi ruh yang membakar jiwa penerusnya.”

🕊 #SerambiTarbiyah
#EstafetDakwah
#NyambungNyalaPerjuangan

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan