☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 13
Cahaya bulan dan bintang di langit malam itu berpendar lembut. Di bumi lampu-lampu jalanan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Di serambi masjid sekolah itu halaqah para murobbi kembali berlangsung. Suara tiupan angin dingin kembali berbisik di telinga, seperti dzikir alam yang menuntun ruh-ruh untuk kembali ke arah.
Ilham memandang ke arah Pak Wawan yang tengah membuka mushaf ukuran A4 dari tas punggungnya. Di sebelahnya, Pak Rifai menghembuskan napas panjang setelah menyesap teh hangat buatan pak marbot masjid, tak manis amat tapi cukup menambah semangat malam yang mulai dingin.
“Ikhwanii fillah,” suara Ustadz Taufik membuka, “saya ingin kisahkan yang ditulis di buku Gumregah Tarbiyah, kisah mungkin 30 tahunan yang lalu.
Ia diam sejenak, pandangannya lurus ke depan. Udara malam begitu diam, seakan siap menjadi saksi.
Baca juga : Khutbah Jum’at, Menyelami Hakikat Kebaikan dalam Kehidupan
Suatu malam, di tengah hujan deras, sang murobbi tetap hadir ke tempat halaqah meskipun tidak memiliki kendaraan, bahkan tidak cukup uang untuk naik ojek. Beliau tempuh jalan setapak sejauh 30 menit dengan kaki basah kuyup, hanya demi hadir di forum binaan. Tak ada peserta lain yang datang malam itu. Tapi beliau tidak marah, tidak kecewa. Duduk, menyapa dengan hangat, dan tetap menyampaikan tarbiyahnya… kemudian pamit, berjalan pulang dalam dinginnya malam. Lanjutnya…“Kesungguhan itu menular. Maka mari kita pastikan, halaqah kita menularkan ruh itu.”

Ustadz Taufik menunduk sebentar, lalu tersenyum lirih. “Akhii fillah,” lanjutnya, “murobbi dalam kisah itu adalah murobbinya Ustadz Cahyadi Takariawan. Dan saya tahu kisah itu bukan sekadar tulisan, tapi bagian dari hidup beliau.”
“Dan saya pun,” ujarnya pelan namun mantap, “pernah merasakan itu langsung.”
Kami semua menoleh. Ada jeda sesaat sebelum beliau meneruskan.
“Ketika saya masih SMA, saya dan teman-teman rohis dibina oleh seorang murobbi—mahasiswa UGM—yang setiap pekan datang ke kota kami. Padahal, dari UGM ke kota saya butuh waktu satu setengah hingga dua jam naik bis. Waktu itu awal tahun 90-an. Beliau datang dengan uang sendiri. Tanpa bayaran. Kadang harus bolak-balik hari itu juga karena besoknya ada kuliah.”
Suasana halaqah mendadak hening. Angin malam menyapa pelan, seolah turut menyampaikan salam pada para murobbi yang ikhlas.
Baca juga : Menguatkan Alasan Untuk Membina
“Beliau tak pernah menuntut apa-apa. Tapi setiap pekan hadir. Kadang kami yang malah abai, tapi beliau tetap datang. Beliau hanya ingin satu ‘agar kami menjadi lebih baik.’ Agar kami mengenal dakwah. Dan saya di sini hari ini… salah satunya karena beliau.”
Pak Wawan menunduk. Mas Yusron dan Ilham sama-sama terdiam. Wajah-wajah mereka berubah, seperti mengendap-endap di dalam kenangan masing-masing.
“Dan ruh itulah yang harus kita teruskan, akhii,” ujar Ustadz Taufik. “Tak semua dari kita akan punya jadwal lapang, fasilitas lengkap, atau tim yang solid. Tapi semua dari kita bisa memilih ‘punya kesungguhan atau tidak.”
Pak Rifai menyambung pelan, “Maka, dalam halaqah kita, tidak cukup rencana kerja atau form evaluasi… tapi siapa yang betul-betul punya ruh murabbi. Yang rela hadir, mendengar, menanam harapan meski belum tentu memanen buahnya.”
Ustadz Taufik menutup catatannya malam itu dengan satu kalimat dari buku yang tadi ia kutip:
*“Rela bersusah payah hadir di forum pembinaan. Tanpa ada bayaran, tanpa ada imbalan, namun bersedia membina orang-orang yang bukan sanak saudara, bukan kerabat dekat.”*
—
📜 Catatan Serambi:
Setiap murabbi memiliki cerita. Dan setiap cerita memiliki jejak. Maka, ukirlah jejak itu dengan kesungguhan. Sebab kelak, mungkin bukan nama kita yang dikenal. Tapi langkah kita yang diam-diam menjadi alasan seorang kader bertahan, dan akhirnya membina pula generasi setelahnya.
Aamiin
#GumregahTarbiyah
