Contoh Kerusakan Lingkungan
Ilustrasi kerusakan akibat ulah manusia (js.ugm.ac.id)

Ketika Sembilan Lelaki Merusak Negeri

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 10

 

Langit pagi itu tampak biasa. Embun sudah menguap dari dedaunan, dan burung-burung bersuara riang. Tapi di serambi rumah Pak Wawan, suasana masih hening. Secangkir kopi hangat mengepul di tangan Ilham. Pak Rifa’i duduk bersandar, dan Ustadz Taufik membuka mushaf kecil dari dalam tas ranselnya. Halaqoh pekan ini dimulai ba’da subuh, untuk ganti suasana.

Antum semua tahu,” sapa Ustadz Taufik sambil membuka halaman tafsir Al-Muyassar, “Al-Qur’an secara gamblang menyebut, ‘Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan…’ (QS. An-Naml: 48). Jumlahnya hanya sembilan, tapi kerusakan yang mereka timbulkan sistematis. Masif. Terstruktur.”

Contoh Kerusakan Lingkungan
Ilustrasi kerusakan akibat ulah manusia (js.ugm.ac.id)

Pak Rifa’i mengangguk, “Dan itu bukan hanya sejarah. Itu pola. Dalam setiap zaman, selalu ada tis’atu rahtin versi baru—kelompok kecil tapi pengaruhnya besar. Mereka yang merusak arah bangsa, merusak moral, mengubah sistem, dan menormalisasi dosa.”

Ilham meletakkan cangkirnya. “mungkin kalau di kita ada ‘9 naga’ ya tadz?…Tapi kita juga tahu, tidak semua orang diam. Di luar sana pasti ada juga golongan ishlah, orang-orang yang memperbaiki. Pertanyaannya, di barisan mana kita berdiri?”

Suasana mulai hangat. Bukan karena kopi, tapi karena diskusi yang cukup menampar kesadaran mereka.

Pak Wawan menyambung. “Yang paling berbahaya itu bukan jumlah mereka, tapi dampaknya. Karena ketika sembilan orang bisa merusak sistem, dan kita sebagai golongan perbaikan justru ragu melangkah… maka negeri ini akan tenggelam dalam keburukan yang dibuat segelintir tangan.”

Baca juga : Renungan di Bawah Kristal dan Waktu Sebelum Subuh

Ustadz Taufik melanjutkan dengan tajam, “Maka ikhwan…Al-Qur’an tidak hanya menyuruh kita berdzikir dan beramal shalih pribadi, tapi juga bangun sistem. Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa… Jangan biarkan para perusak negeri bekerja terstruktur, sedangkan kita tercerai sebagai pejuang pembinaan.” ustadz Taufik melanjutkan
“Ibarat perang kita hanya membalas serangan hanya dengan sporadis, sekenanya”
Mas Yusron mengangguk pelan, “Kadang kita terlalu sibuk menata internal, lupa bahwa musuh sudah membangun sistemnya. Mereka punya media, punya dana, bahkan punya program regenerasi. Sementara halaqah kita kadang masih sibuk bicara absen dan porsi snack…yang mestinya itu sudah lewat”

Semua tertawa kecil, namun terasa getir.

“Karena itu ikhwan,” Pak Rifa’i menghela napas, “kita para murobbi itu bukan hanya tukang terima setor ayat dan mutaba’ah. Tapi arsitek peradaban. Kalau sembilan perusak negeri bisa menyusun kehancuran, sembilan murobbi tangguh seharusnya bisa menyusun kebangkitan..semangat”

Ustadz Taufik menutup dengan satu ayat, “Dan peliharalah dirimu dari siksa yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kamu saja… (QS. Al-Anfal: 25). Artinya, kalau kita diam saja, kita pun akan kena dampaknya.”

Hening. Tapi kini hening itu seperti gemuruh dalam dada. Diskusi pagi ini bukan hanya menyadarkan, tapi juga menampar: *sudahkah aku menjadi bagian dari golongan ishlah?*

📜 Catatan Serambi
Kerusakan negeri bisa dimulai oleh segelintir orang yang tersusun rapi. Tapi pembaikan negeri butuh lebih banyak orang yang terpanggil. Murobbi bukan hanya guru taklim, tapi pejuang sistem peradaban. Jika perusak bisa masif, maka murobbi harus lebih obsesif. Obsesif memperbaiki, membina, dan membangunkan umat.

Tinggalkan Balasan