☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 7
Rumah Pak Wawan malam itu terasa hangat. Ruang tamunya cukup lebar, rumah itu berdiri tepat di pinggir jalan raya kampung, berhadapan dengan masjid besar yang setiap harinya tak pernah sepi dari kegiatan warga. Sesekali terdengar suara motor atau mobil dari jalan. Di sisi ruangan, sebuah etalase kaca menampilkan dagangan ringan khas kampung : keripik tempe dan keripik tahu, ikhtiar kecil Pak Wawan dan istrinya untuk bekal masa pensiun.
Malam itu, halaqah rutin tiba giliran dirumah pak wawan. Mereka berkumpul di ruang tamu itu, duduk melingkar di atas tikar pandan yang bersih. Di tengah lingkaran, nampan kayu berisi keripik tempe hangat dan wedang jahe godhogan dari dapur Bu Wawan. Hangatnya sungguh pas dengan udara kampung yang mulai turun embun.
Ustadz Taufik datang dengan tas ransel kain yang sudah agak lama, tapi tetap bersih dan tertata rapi. Ia mengenakan kemeja abu-abu polos yang disetrika bersih, dan celana bahan warna gelap. Seperti biasa, penampilannya tidak mencolok tapi sedap dipandang. Ketika duduk, ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Buku itu tampak baru meski sudah beberapa bulan dibawa-bawa: Gumregah Tarbiyah.
“Ikhwatii fillah,” sapa Ustadz Taufik membuka diskusi, setelah hamdalah dan sholawat, suaranya tenang seperti biasa, tapi malam ini ada nada ingin menggugah.
“Saya ingin mulai halaqah malam ini dengan satu pertanyaan: siapa penakluk Konstantinopel?”
“Ya Sultan Muhammad Al-Fatih,” jawab Ilham cepat, seperti sudah hafal dari pelajaran sejarah sekolah.
“Masya Allah, betul. Nah… siapa murabbi beliau?” lanjut Ustadz Taufik sambil mengangkat alis.
Hening. Semua saling pandang. Bahkan Pak Rifai yang biasanya paling update soal sejarah pun tampak berpikir keras.
“Hmm… saya tahu Al-Fatih sering didampingi ulama. Tapi nama khusus… saya belum tahu, ustadz,” kata Mas Yusron.
“Saya juga belum pernah mendengar kisah murabbi beliau secara khusus,” timpal Pak Wawan sambil menyeruput jahe godhogan.

Ustadz Taufik tersenyum. Ia membuka halaman buku dan mulai membacakan perlahan, “Namanya Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Seorang ulama, ahli tafsir, ahli hadis, dan mursyid sufi. Tapi namanya… nyaris tak dikenal.”
Ilham mengernyit. “Jadi beliau bukan jenderal atau panglima, ustadz?”
“Bukan. Tapi beliaulah perancang kepribadian Muhammad al-Fatih sejak kecil, dari keteladanan dan pendidikan ruhiyah.”
Pak Rifai mulai menunduk dalam. “Ini menarik sekali ustadz… beliau ini seperti murabbi di balik layar ya?”
“Benar,” lanjut Ustadz Taufik. “Beliau tak ikut berperang. Tak pernah tampil di mimbar agung. Tapi ruh perjuangan muridnya adalah hasil tarbiyahnya. Bayangkan, beliau menanamkan pada anak kecil: ‘Engkau akan menjadi penakluk kota yang dijanjikan Rasulullah…’”
Semua diam. Tak ada suara selain desisan angin malam dari sela jendela dan renyahnya keripik digigit pelan.
“Murabbi itu bukan pencari panggung. Tapi pengukir sejarah,” kata Ustadz Taufik dengan nada dalam. “Kadang kita mengira bahwa membina itu sekadar mengisi halaqah. Tapi Syaikh Al-Kurani menunjukkan, membina itu menyulut cahaya dalam jiwa yang kecil—hingga kelak menerangi dunia.”
Pak Wawan menerawang. “Jadi… bisa dibilang, Al-Kurani itulah desainer dari impian besar yang kelak menjadi sejarah?”
Ustadz Taufik mengangguk. “Ya. Murabbi ‘hidden’ yang tahu apa artinya merancang peradaban. Beliau tidak hanya menulis banyak buku. Tapi beliau juga “menulis” pribadi menanam manusia. Dan kita hari ini… Bila ditanya Allah: apakah kita juga sedang menanam manusia, atau sekadar mengisi waktu?”
Hening lagi. Tapi bukan hening kosong. Hening yang menumbuhkan tanya dalam dada masing-masing.
Mas Ilham menyandarkan punggungnya, menatap ke langit-langit rumah Pak Wawan yang mulai menguning dimakan waktu. “Ustadz… apakah mungkin saya juga bisa jadi seperti beliau?”
“Jika niatmu ikhlas dan tekadmu kuat… bukan cuma mungkin, tapi kamu sedang di jalan yang sama,” jawab Ustadz Taufik lirih, namun tegas.
“Ajaran-ajaran dan tarbiyah beliau sangat berpengaruh pada kehidupan Al-Fatih, karena beliau seorang ulama yang punya spiritualitas sangat kuat, salah satu contoh nya beliau selalu menghidupkan malamnya dengan membaca Al Quran.” tutup ust Taufik.
—
📌 Catatan Serambi:
“Nama kita tak harus tercatat di buku sejarah. Cukup tertulis dalam amal generasi penerus yang kita bimbing. Karena murabbi sejati… bukan yang dikenang, tapi yang meninggalkan nyala.”
🕊 #SerambiTarbiyah |
#MurabbiPerancangPeradaban
#GumregahTarbiyah

Pingback: Menjaga Muru’ah di Tengah Derasnya Dunia - YP2SI Al Ummah