☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 19
Malam itu bukan malam halaqah biasa. Para murobbi berkumpul di Ruang Lab Sekolah, karena gazebo yang biasa dipakai, ada kelompok halaqoh karyawan yang lain. Dalam sesi liqa’ mutaba’ah.
Air mineral dan beberapa kletikan ringan menjadi teman perbincangan.
Pak Wawan duduk di sisi timur, Pak Rifa’i di sisi hadapannya, sementara Mas Ilham dan Mas Yusron sudah datang lebih dulu, ada di antara Pak Wawan dan Pak Rifa’i. Ustadz Taufik tiba terakhir, membawa buku catatan berisi bahan bahasan.
Setelah basa-basi ringan dan memanaskan suasana dengan beberapa kabar mutarabbi, Ustadz Taufik membuka dengan menyelami tema bahasan yang lebih dalam.
“Ikhwatii fillah…,” sobat pejuang rahimakumullah suaranya terasa berat, “Antum pernah merasa malas membina? Atau merasa… sedang tidak punya semangat seperti dulu?”
Mas Yusron menjawab cepat, “Pernah banget, Ustadz. Bahkan sampai merasa lebih bersemangat kerja atau dagang daripada ngajak mutarabbi ngaji.”
Baca juga : Terus Membina Agar Masuk Surga
Mas Ilham menunduk, “Saya juga, ustadz… Kadang nungguin mutarabbi tapi nggak datang-datang, sepertinya mereka menghukumku dengan keterlambatan mereka, harus menunggu, akhirnya males buka materi pekanan.”
Pak Rifa’i mengangguk pelan, “Kita ini kadang seperti tungku yang padam, butuh ditambah kayu bakar baru. Tapi gak tahu mulai dari mana.”
Ustadz Taufik mengeluarkan secarik stickynote buku dari halaman buku, lalu membaca halamannya
“Menganggur dalam dakwah adalah penyakit. Tidak melakukan pembinaan adalah pengangguran. Bahkan bila ia sibuk dalam banyak kegiatan sekalipun, tapi tak ada aktivitas membina, ia tetap penganggur dakwah.”
Semua terdiam.
“Dakwah ini seperti dapur,” lanjut Ustadz Taufik. “Kalau gak ada pembinaan, gak ada yang masak. Gak ada nutrisi ruhiyah. Akhirnya semua kelaparan… Bahkan organisasi pun bisa lumpuh.”
Pak Wawan mengangkat gelasnya, “Tapi Ustadz, kadang bukan karena gak mau… Tapi benar-benar rasa malas, capek, kayak hilang alasan.”
“Na’am, akhii…” sahut Ustadz Taufik, “Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan bahwa setiap amal pasti ada masa semangat, dan pasti ada masa futur. Tapi yang keluar dari jalan sunnah saat futur, itulah penyimpangan.”
Beliau membaca haditsnya
Baca juga : Jika Magnet Itu Belum Menarik, Apa yang Harus Kita Lakukan?
“Wa likulli ‘amalin syirrah, wa likulli syirrah fatrah. Faman kānat fatratuhu ila sunnatī faqad ihtadā, wa man kānat ilā ghairi dzālika faqad ḍalla.”
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabīr 2:284)
Mas Ilham menelan ludah. “Jadi, boleh futur, tapi jangan keluar dari jalan…?”
“Kurang lebih begitu, akhii,” jawab Ustadz Taufik. “Yang penting kita terus kembali ke jalan, terus menyalakan kembali tungku dakwah. Jangan jadi penganggur. Karena saat kita tidak membina, kita jadi beban dakwah dan bukan pembawa beban.”
Pak Rifa’i menyahut, “Dulu, saya sempat merasa berat sekali. Tapi saya ingat satu hal ‘bahwa saya ini bukan orang hebat… tapi kalau saya terus berhenti tidak bergerak, siapa yang akan menyapa anak-anak muda itu?”
Mas Yusron menambahkan, “Kalau saya ustadz, ada doa yang saya hafal dari doa Rasulullah ﷺ yang minta perlindungan dari sifat malas. Itu yang bikin saya setidaknya bertahan.”
“Allāhumma innī a’ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazani, wal-‘ajzi wal-kasali, wal-jubni wal-bukhli, wa ghalabatid-daini wa qahrir-rijāl.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah, duka cita, kemalasan, dan kelemahan….”
Suara makin pelan.
Ustadz Taufik menutup “Ikhwatii fillah… jangan malu mengaku lelah. Tapi jangan izinkan lelah itu membuat kita menyerah. Karena kalau kita berhenti membina, bisa jadi Allah cabut keberkahan ilmu dan amal kita. Jangan jadi pengangguran dakwah. Teruslah bekerja, walau hanya menyiram satu tunas… karena siapa tahu tunas itulah yang nanti tumbuh menjadi pohon surga untukmu.”
Ruang laboratorium itu hening. Namum tidak beku.
Mereka tahu, malam itu mereka diingatkan bukan untuk ditakuti…atau menuduh…tapi untuk kembali menyala bersama sama.
📜 Catatan Serambi
Dalam hidup ini, kita pasti lelah. Tapi lelah karena dakwah itu membahagiakan. Jangan biarkan diri kita menjadi “pengangguran dakwah” mungkin yang sibuk, tapi tak menyentuh ruh umat. Mari kembali menyalakan bara tarbiyah. Karena dakwah ini bukan butuh orang hebat, tapi orang yang terus bergerak, meski pelan, tapi istiqamah.
#NgopiDiSerambiTarbiyah
#TarbiyahBukanRutinitas
#GumregahTarbiyah
#StopPengangguranDakwah

Pingback: Awalnya Keprihatinan, Berakhir dengan Perubahan - YP2SI Al Ummah