Awalnya Keprihatinan, Berakhir dengan Perubahan

Awalnya Keprihatinan, Berakhir dengan Perubahan

☕ Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 20

Hujan baru saja reda. Jalanan kota masih basah, dan genangan kecil memantulkan lampu-lampu toko yang mulai tutup. Ustadz Taufik berjalan pelan di trotoar, menenteng payung lipat yang masih meneteskan air. Ia baru saja keluar dari rumah sakit daerah—menjenguk salah satu teman.

Di depan sebuah warung soto kaki lima yang mengepulkan aroma hangat, tempat kumpul janjian “penugasan” kecil ia melihat Pak Rifa’i sudah melambai dari kursi plastik. Di sebelahnya, Mas Ilham dan Mas Yusron duduk sambil menyeruput teh hangat. Pak Wawan datang beberapa menit kemudian, membetulkan jaketnya yang sedikit kena tetesan hujan sambil tersenyum.

Malam itu bukan jadwal halaqoh, bukan pula liqa’ rutin. Tapi obrolan yang mengalir hasil “keputusan syuro halaqoh lalu” di meja warung soto itu terasa seperti majelis tarbiyah mini.

Baca juga : Jangan Jadi Pengangguran Dakwah

Antum tahu,” buka Ustadz Taufik setelah memesan, “kalau kita melihat wajah orang-orang di jalanan malam ini, entah pedagang kecil, driver ojol, atau anak-anak nongkrong di emperan, hati ini sering kali terasa berat. Ada keprihatinan yang muncul… sama seperti yang dirasakan Rasulullah ﷺ sebelum wahyu pertama turun.”

Pak Rifa’i menoleh. “Maksudnya keprihatinan seperti di Gua Hira itu, Ustadz?”

Na’am,” jawab Ustadz Taufik. “Rasulullah ﷺ melihat jahiliyah di sekelilingnya—kemiskinan, kebodohan, kemaksiatan, kesyirikan—lalu beliau mengasingkan diri, merenung, mencari jalan perbaikan. Tapi yang membedakan… beliau tidak berhenti di rasa prihatin. Beliau melangkah.”

Pak Rifa’i melanjutkan “Karena kita mewarisi tugas rasulullah sebagai para da’i, rasa yang perlu dimunculkan bukan menyalahkan atau menggugat mereka kok ngongko-ngongko begitu”. Ilham memotong “perbuatan seperti gabut dan lagho ya pak?”.

“Iya namun bagaimana kita resah bukan menyalahkan mereka, tapi what next our plan to improve their activity? ” Lanjut Pak Rifa’i.

Mas Yusron menimpali, “Langkah pertama itu rekrutmen, ya?”

“Betul,” sahut Ustadz Taufik. “Beliau Rasulullah mulai dari orang-orang terdekat, yang kira-kira siap menerima kebenaran. Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid. Lalu Abu Bakar pun merekrut yang lain. Dari satu menjadi sepuluh, dari sepuluh menjadi tiga puluh delapan. Hingga lahir rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai pusat tarbiyah.”

Baca juga : Terus Membina Agar Masuk Surga

Pak Wawan meletakkan sendoknya, “Berarti, kalau kita hanya merasa prihatin lihat lingkungan—misal anak muda yang sibuk mabar, warga yang mulai cuek sama masjid—tapi tidak mengambil langkah, itu belum meneladani Rasulullah ﷺ?”

Na’am, akhii,” tegas Ustadz Taufik. “Keprihatinan harus jadi bahan bakar, bukan beban pikiran. Setelahnya, ada dua langkah pertama rekrutmen dan kedua pembinaan berkesinambungan. Tanpa itu, dakwah akan mandek.”

Mas Ilham bertanya, “Kalau kita merasa belum siap rekrut orang baru, apa yang bisa dilakukan?”

Ustadz Taufik tersenyum. “Mulai dari yang paling dekat. Ajak ngobrol. Undang ke acara santai. Sisipkan nilai kebaikan. Dakwah sirriyah itu bukan berarti sembunyi-sembunyi tanpa suara, tapi menyentuh hati dengan hikmah, sampai orang itu merasa aman untuk ikut bersama kita.”

Hujan kecil kembali turun tipis, terdengar lembut diatas atap terpal.

Pak Rifa’i berkata pelan, “Kadang kita lupa, bahwa sebelum ada rumah Arqam, ada air mata di Gua Hira.”

“Benar,” kata Ustadz Taufik. “Dan sebelum ada ratusan sahabat, ada satu orang yang diyakini bisa jadi pintu perubahan. Maka jangan pernah remehkan satu ajakan, satu pertemuan, satu langkah. Siapa tahu itu awal dari sejarah besar.”

Hujan gerimis kecil masih turun ketika para murobi itu meninggakan warung soto, Malam itu mereka pulang bukan hanya dengan perut kenyang, tapi dengan hati yang menyala. Bukan sekadar prihatin… tapi bersiap melangkah.

 

📜 Catatan Serambi
Keprihatinan itu wajar, tapi jangan berhenti di sana. Ia harus menjadi energi untuk melangkah. Dakwah Rasulullah ﷺ dimulai dari rasa prihatin, lalu bergerak menjadi ajakan, lalu terstruktur menjadi tarbiyah berkesinambungan. Jika ingin melihat perubahan, kita pun harus memulai langkah—meski kecil—dari hari ini.

#NgopiDiSerambiTarbiyah
#KeprihatinanYangBerbuahPerubahan
#GumregahTarbiyah
#LangkahKecilDakwahBesa

This Post Has 0 Comments

Tinggalkan Balasan