You are currently viewing Pendidikan sebagai Jalan Kebangkitan Nasional dalam Pandangan Islam

Pendidikan sebagai Jalan Kebangkitan Nasional dalam Pandangan Islam

Apa Itu Hari Kebangkitan Nasional?

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal ini menandai lahirnya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Organisasi tersebut dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan didirikan oleh Dr. Soetomo bersama rekan-rekannya, yang merupakan pelajar di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sebuah sekolah kedokteran untuk pribumi di Batavia (sekarang Jakarta).

Mereka memiliki keyakinan bahwa kemajuan bangsa hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang baik. Dari sinilah semangat kebangkitan nasional mulai tumbuh. Rakyat Indonesia mulai sadar akan pentingnya persatuan dan perjuangan untuk meraih kemerdekaan, dengan pendidikan sebagai kunci utamanya.

Pendidikan Itu Kunci Kebangkitan Nasional

Pendidikan adalah lentera kehidupan
Pendidikan adalah lentera kehidupan

Para tokoh pergerakan, seperti Soetomo dan Wahidin Sudirohusodo, memahami bahwa ilmu adalah kekuatan. Mereka memilih jalur pemikiran dan organisasi ketimbang kekerasan untuk melawan penjajahan. Lewat pendidikan, mereka ingin membebaskan rakyat dari belenggu kebodohan dan ketertinggalan.

Semangat ini tetap relevan hingga kini. Kemajuan Indonesia di masa depan sangat bergantung pada seberapa serius kita memperhatikan pendidikan — baik untuk anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.

Bagaimana Pandangan Islam tentang Pendidikan?

Dalam ajaran Islam, pendidikan menempati posisi yang sangat penting. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca: “Iqra'”. Ini menjadi isyarat bahwa kebangkitan umat Islam dimulai dengan ilmu.

 “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.”
(HR. Muslim)

Islam mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya soal pelajaran sekolah. Ilmu juga berarti mengenal Allah, memperbaiki akhlak, dan membangun masyarakat yang adil dan damai. Ilmu yang bermanfaat bisa mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Baca Juga : Menyelamatkan Remaja dari Kenakalan lewat Pendidikan yang Layak

Relevansi Hari Kebangkitan Nasional bagi Umat Islam Hari Ini

Melihat sejarah dan ajaran Islam, kita bisa menyimpulkan bahwa pendidikan adalah alat utama kebangkitan umat dan bangsa. Jika Budi Utomo tumbuh dari semangat belajar, maka peradaban Islam pun dibangun melalui ilmu dan pendidikan.

Di era global saat ini, tantangan kebodohan dan kemunduran masih ada, meski dalam bentuk yang berbeda. Ketimpangan pendidikan, degradasi moral, dan minimnya semangat belajar menjadi tantangan baru. Maka, Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk:

  • Meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan.

  • Menanamkan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan.

  • Mendorong generasi muda untuk cinta ilmu dan berkontribusi membangun bangsa.

Kita tidak bisa berbicara tentang kebangkitan nasional tanpa menyinggung peran besar pendidikan, terutama pendidikan yang berakar dari nilai-nilai Islam. Sebab, kebangkitan sejati adalah saat ilmu menjadi cahaya dalam setiap langkah, dan iman menjadi landasan dalam setiap perjuangan. Maka, mari jadikan 20 Mei sebagai titik awal untuk memperkuat pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

 

Tinggalkan Balasan