Gambar ilustrasi dari Freepik
Gambar ilustrasi dari Freepik

Ketika Dunia Menggoda di Tengah Jihad

Ngopi di Serambi Tarbiyah – Episode 7 Seri 2

Ruang masjid asrama yatim dekat rumah dinas Pak Rifa’i kali ini menjadi saksi pertemuan halaqah, ruang masjid dg karpet hijau sepi setelah anak anak panti masuk dan belajar cukup sepi setelah anaka anak jama’ah isya tadi. Kesepakatan snack non minyak menjadi teman diskusi ditemani teh hangat dan air murni kemasan.

Gambar ilustrasi dari Freepik
Gambar ilustrasi dari Freepik

Ustadz Taufik duduk bersila di atas karpet yang bersih, bersandar pada salah satu dinding masjid. Tas ransel beliu menjadi wadah beberapa referensi. Buku Gumregah Tarbiyah sudah terbuka di tangannya, lengkap dengan catatan kecil yang diselipkan di dalamnya.

Ikhwatii fillah,” sapanya membuka halaqah malam itu , “berapa banyak di antara kita yang mengira bahwa godaan dunia hanya datang dari kenyamanan dan kelimpahan”

Baca juga : Menjaga Muru’ah di Tengah Derasnya Dunia

Pak Rifa’i mengedepankan tubuhnya, seolah bersiap untuk menyimak dalam-dalam. Ilham yang sedari tadi memandangi pisang godog tersenyum kecil. Mas Yusron tampak duduk bersila dengan tubuh juga agak condong ke depan, tanda antusias.

“Di Perang Badar,” lanjut Ustadz Taufik, “para sahabat sudah berjihad. Tapi di tengah jihad itu, muncul godaan. Bukan dari dalam rumah. Tapi dari harta rampasan perang. Ghanimah. Masing-masing merasa paling berjasa. Yang mengejar musuh, merasa paling berhak. Yang memungut ghanimah, merasa paling duluan. Yang melindungi Rasulullah ﷺ, merasa paling strategis.”

Ia diam sejenak, membiarkan keheningan mengambil tempat.

“Tapi Allah menurunkan ayat pertama Surat Al-Anfal. Karena mereka—pasukan terbaik yang pernah ada—hampir retak karena urusan dunia. Ghanimah jadi pemicu,” lanjutnya dengan suara tenang namun menghujam.

Mas Yusron perlahan mengangguk. Ilham mulai duduk tegak. Pak Rifa’i membuka catatan kecil di sakunya.

“Dan di Uhud, kisahnya lebih perih,” kata Ustadz Taufik sambil menatap halaman yang baru saja ia balik. “pemanah-pemanah sahabat Nabi ﷺ terlepas dari posnya. Bukan karena takut, tapi karena tergoda perhiasan dunia. Kilauan harta. Kain yang dibawa kaum musyrikin yang lari. Seorang pemanah berteriak girang, ‘Ada ghanimah!’ Dan pos itu pun ditinggalkan.”

Ia berhenti membaca. Suaranya makin lirih, “Akibatnya, tujuh puluh sahabat syahid. Padahal kemenangan sudah di depan mata. Tapi kealpaan sesaat, ketidaksabaran, dan orientasi yang tergeser membuat kekalahan menjadi kenyataan.”

Pak Rifa’i menghela napas panjang. “Dan ayat itu turun…” ujarnya pelan.

Ustadz Taufik mengangguk, lalu membaca: “Minkum man yurīdu al-dunyā wa minkum man yurīdu al-ākhirah.”
“Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali ‘Imran: 152)

Hening. Ruangan seakan ditelan suasana perenungan. Hanya terdengar suara detik jam dinding yang seakan mengeras karena hening suasana dan sesekali kendaraan melintas pelan di jalan raya sebelah masjid.

“Ini bukan berarti para sahabat itu cinta dunia,” lanjutnya menenangkan. “Ini hanya sesaat. Tapi cukup membuat sejarah berubah. Begitulah dunia, ikhwatii fillah… bisa membuat siapa pun terpana. Maka Nabi ﷺ pun mengingatkan kita dengan sabdanya,” ia membaca dengan suara berat: “Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian. Tapi dunia. Jika dunia dibuka untuk kalian, maka kalian akan berlomba-lomba, dan dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana umat sebelum kalian hancur karena dunia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga : Peran Pendidik Dalam Menanamkan Karakter BAKU di Assalaam Boarding School Pekalongan

Pak Wawan menunduk. Ia menoleh pelan ke kipas angin dinding di belakang Ustadz Taufik.

Ilham berbisik lirih, “Saat ini sudah semua ayat itu turun. Sudah dibaca. Sudah disampaikan…dan sudah kita pelajari hikmah nya”

“Pertanyaannya,” Ustadz Taufik melanjutkan sembari menutup bukunya, “apakah kita mampu meluruskan orientasi kita? Orientasi perjuangan kita? ”

InsyaAllah bisa,” sahut Pak Rifa’i, mantap.

“Asal pembinaan kita,” sambung Mas Yusron, “diefektifkan. Tidak hanya rutinitas. Tapi jadi ruh harakah ini.”

Ustadz Taufik mengangguk. “Itulah PR kita bersama. Bukan sekadar hadir di halaqah, tapi hadirkan hati dalam tarbiyah.”

Suasana malam itu berakhir dengan do’a Rabithoh yang lirih. Namun hati para murobi malam itu seakan mengikat janji baru—untuk menjaga orientasi, memperkuat ruh, dan menapaki jalan ini dengan kesungguhan.


📌Catatan serambi.
” Tarbiyah kita sebagai sarana menyambung nyala jiwa yang ingin terus hidup bersama dakwah ini.

#SerambiTarbiyah
#nyambungNyalaPerjuangan

Tinggalkan Balasan